Bunuh Diri a-la Penulis

Menulis di jaman sekarang, sudah tidak memisahkan hobi. Tapi sudah menjadi tambang emas dalam memenangkan pundi-pundi royalti. Sayangnya, ada saja yang melakukan berbagai cara demi meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Cara-cara licik (yang sudah lazim) dilakukan para penulisnya yang kusebut sebagai cara bunuh diri a-la penulis (terutama Indie dan Self Publishing). 
Mau nyoba?
Ikutin beberapa tips dan trik di bawah ini.
1. Tulislah naskah porno yang berbahaya . Gak tanggung-tanggung, hampir seluruh bab novelmu isinya desahan eh, ah, oh iya! 
2. Menulislah sesuka hatimu.  Abaikan typomu yang bagaikan pasir di pantai, karena kau memang tidak tahu di mana kesalahanmu. Atau kau terlalu pelit untuk menggunakan jasa editor. 
3. Buat spasi sejarang mungkin.  Hingga naskahmu yang hanya 100 halaman, bisa melar menjadi 300 halaman. Buku tebal kan harganya mahal, kan ya?
4. Layout novelmu terlihatak udel.  Penuh dengan halaman-halaman yang diisi gambar, puisi dan kuote. Sampai akhirnya pembacamu mikir, ini novel apa komik? Atau antologi puisi?
5. Pasang harga selangit.  Buku isinya cuma kelebayan, kebaperan, kecengengan dengan ending (sok) bergaul, biar ada sekuelnya, dan dijual 100rb. 
6. Plagiasi . Mau separoh, atau seluruhnya, hanya mengubah nama-nama tokohnya doang, atau endingnya dibengkokkan dikit.
Jadi ... Setelah melakukan semua itu, dijamin kau dan bukumu akan menjadi obrolan tak sedap di berbagai media sosial. Banyak pembeli yang teriak-teriak untung menemukan bacaan abal-abal harta mahal. Bukumu bisa jadi akan dirobek-robek dan sukur-sukur gak yang dibakar lalu photonya diaplut. Pembacamu akan kapok membeli bukumu dan akhirnya meninggalkanmu. Mereka akan mengharamkan namamu. Penulis yang tanpa pembaca, sama artinya dengan mati.