Killer By Number

1. Ibunya 

Dendam. Aku sungguh dendam. Rasanya mukaku memerah karena marah. Dan tubuhku memanas karena desakan untuk membalas begitu kuat dan hebat. Entah kenapa aku begitu yakin, serangan tadi malam itu adalah perintah ibunya! Memang wanita licik itu sangat kuat pengaruhnya di dalam silsilah keluarga itu. Jika katanya serang, maka semuanya akan bergerak lebih cepat dari tiupan angin untuk menyerang sasaran. Dan jika wanita itu memerintahkan untuk melukai, maka semuanya tidak akan segan-segan untuk melukai. Tetapi aku tidak akan berdiam diri saja sekarang. Aku tidak ingin terus-terusan disakiti. Aku bukan budak dan jiwaku tidak bodoh hingga menerima kekejaman ini begitu saja. Aku sudah cukup sabar dan lelah bergerak menghindar. Aku tidak mau lagi bersembunyi. 

“Satu-satunya cara untuk membalas semua ini adalah dengan membunuh ibunya!” ucapku dalam hati. Segera aku bergerak, melangkah keluar rumah. Ada yang harus kulakukan sebelum rencanaku kujalankan.

Tetapi sekalipun aku sedikit lega karena keberanian yang muncul secara tiba-tiba memberi energi baru terhadap tubuhku, tak pelak lagi sekelebat ingatan mengerikan itu kembali berkelebat di benakku. Betapa brutal dan kasarnya penyerangan tadi malam. Mereka benar-benar kejam dan tidak memiliki belas kasihan. Melukai dan menyakiti seakan sudah menjadi makanan sehari-hari bagi kelompok bar-bar itu. Darah yang berceceran tampaknya sudah menjadi kidung kemenangan mereka. Aku benci! Benci sekali! Aku harus segera membunuh wanita itu dengan tanganku sendiri!


2. Ayahnya 

Sambil melangkah cepat, sebentuk jiwa melintas di memoriku. Aku juga harus memperhitungkan jiwa lain yang mesti kurenggut kehidupannya dari dunia ini. Ayahnya! Pria bertubuh besar dan berperangai kasar itu juga harus merasakan dendamku. Tidak akan kubiarkan dia menghirup udara bumi ini lebih lama lagi. Tidak akan ada kesempatan lain baginya untuk kembali menyakitiku atau keluargaku. Aku berjanji, setelah ibunya, aku akan segera membunuh ayahnya. Mereka berdua harus mati di tanganku. Dan akan kupastikan untuk melihat mayat mereka satu-persatu dengan mata kepalaku sendiri. Aku tidak akan tenang sebelum benarbenar menghabisi nyawa mereka satu-persatu. Biarlah jika seelah itu aku akan medapat predikat kejam atau tidak berperikemanusiaan. Aku tidak perduli. Tekadku sudah bulat untuk membunuh mereka.

Aku masih melangkahkan kaki menuju satu tujuan. Membelah padatnya lalu lintas, keringat dan air mata merembes keluar dari pori-poriku, aku tidak perduli. Saat ini dendam sudah begitu kuat memompa adrenalin keberanianku. Tak ada satu halpun yang mampu membuatku mundur!

3. Adik dan Kakaknya

Namun sekalipun aku sudah menyusun rencana balas dendam ini dengan begitu sempurna, aku tahu aku pasti tidak akan dengan gampang menembus pertahanan keluarga itu. Aku yakin akan  mendapat perlawanan dari seluruh keluarga bar-bar itu. Terutama Adik dan Kakaknya! Dua bersaudara itu sudah menjadi musuh bebuyutanku sejak lama. Kemanapun aku melangkah, mereka selalu saja mengusik dan menggangguku. Mereka juga tidak akan segan-segan menyakiti dan melukaiku. Aku sudah bosan mendapat perlakuan kejam dari mereka. Dua bersaudara itu harus mendapat balasan setimpalku. Bersama ibu dan ayahnya, kedua kakak dan adik itu juga harus merasakan pembalasanku. Aku akan membunuh mereka! Aku akan menghabisi mereka sekarang juga. 

Memang pasti terlihat bodoh melakukan perlawanan seorang diri. Dengan kedua tanganku yang kecil ini … dan takadku yang masih bisa goyah … namun aku tahu aku pasti bisa melakukannya. Aku percaya dengan energi yang kumiliki. Dengan kekuatan dan ilmu pengetahuan yang selama ini kutempah. Walau harus berkorban nyawa, aku tidak akan mundur dalam pembalasan dendam ini. Bahkan aku sudah mulai merasakan aura kemenangan di tanganku. Semakin dekat dengan tempat tujuanku, tubuhku semakin bergetar. Seolah ada nada genderang perang yang menggema dan memberi semangat pada jiwaku. Seakan aku juga bisa memberi nama pembalasan ini sebagai Killer by Number. Pembunuhan berdasarkan nomor urut. Ibunya... lalu ayahnya … dan kemudian adik dan kakaknya. Dan bahkan aku seperti telah memiliki lagu kemenangan atas pembalasan ini.

Satu-satu … kubunuh ibunya!
Dua-dua … kubunuh ayahnya!
Tiga-tiga … kubunuh adik dan kakaknya!
Satu-dua-tiga … mati semuanya!

Hahahahahahahahaaaaaa ….

“Cari apa, Lin?” tanya pemilik warung di simpang rumah.

“Anu, Bang, Bayg*n satu botol!”

“Wah, mau bunuh nyamuk nih?”

“Yeah!”

Begitulah. Setelah kembali ke rumah, pembalasan dendamku akhirnya tersampaikan. Dan aku dapat melihat seluruh keluarga bar-bar itu mati di tanganku setelah aku menyemprot mereka dengan senjataku.

Killer by Number End

Hehe! Jangan srius amat bacanya :D
  

Reactions

2 Comments:

febie pranolosa said...

sial dikirain ada pertumpahan darah beneran. hahaha

Dewi Mariyana said...

Kampret.... wkwkwkw

Kejebak aku. Uda serious Kali bacanya sampe merinding disco. Eh binatang penghisap darah yang mau dimatikan.