2012

Terminal bis Mega Mendung cukup ramai pagi ini hingga sulit bagi Inga mencari cowok yang ingin bertemu dengannya. Tetapi samar-samar dilihatnya Roy melangkah membelah keramaian dengan mudahnya. Wajahnya cerah. Kemejanya merah muda – selera yang aneh - berpadu  jeans belel berwarna tak jelas. Di belakangnya terseret-seret sebuah tas koper berwarna biru.

“Sorry, gal! Macet. Udah lama nunggu?” sapanya ramah. Tangannya terbuka lebar dan mulutnya menyosor hendak mencium pipi Inga. Namun gadis itu cepat-cepat menangkap muka Roy, dan membuangnya kesamping.

“Genit amat sih lo!” makinya membuat Roy terkekeh. Giginya yang berbaris rapi tampak putih bersinar. 

“Gitu aja nolak. Dulu suka.”

“Dulu kapan?”

“Waktu SMU.”

“Ngimpi, kali lo.”

“Jadi gak pernah ya?”

Inga meringis. Nih cowok dari dulu memang perayu ulung, tapi gak pernah serius! “Okey.To the point aja. Untuk apa kita di sini? Napa gak di Jakarta aja?” tanya Inga seraya melirik jam tangannya, “lo tau besok gue meja ijo. Jadi gak bisa lama-lama.”

Roy tersenyum manis, “itu yang gue suka dari lo, Nga. Walo udah di ujung tanduk, tapi lo masih mau ketemu gue.”

“Makanya, jangan buang-buang waktu.” Timpal Inga cepat.

“Well, seperti yang udah gue katakan di facebook, gue ada job buat lo.”

“Iye, job apaan?”

“Sorry, gal. Masih secret.”

Inga mendelik, “Gue pulang nih.”

Roy tertawa lebar, “Gitu aja ngambek. Ya udah. Ntar gue jelasin di hotel.”

Inga langsung berdiri, “lo mau ngajak gue nginap?” tanyanya melirik koper Roy yang tergeletak di lantai.

“Emang lo mau?”

“Tak sudi!”

Roy terkekeh, “Berarti kita bukan mau nginap.”

“Jadi untuk apa ke hotel?” tanya Inga curiga. Matanya menyipit waspada akan bahaya, “Lo mau ngejual gue ya?”

“Emang masih ada yang minat sama cewek setua lo?”

“Kalo gitu, mau apa ke hotel?”

Roy melirik kekiri dan kekanan, membuat Inga senewen. Lalu dia mendekat ketelinga gadis itu, “jobnya ada di hotel.”

“Okey, tapi job apaan?”

“Pokoknya kerja mudah, uangnya banyak.”

“Lo mucikari ya?”

Spontan Roy tertawa terbahak-bahak, “dari tadi otak lo ngeres mulu, Nga. Kebanyakan belajar kurang gaul, lo.”

“Abis, apaan dong? Gue gak mau ngikutin lo kalo maksud lo gak jelas.”

Roy menghela nafas panjang, “Oke. Gue kasih cluenya. Ini berkaitan dengan keahlian lo di bidang komputer. Jadi enggak ada hubungannya dengan pornografi.”

“Trus, napa mesti di hotel?”

“Itu tempat yang paling aman. Ayo.”

*

Hotel yang d maksud Roy ternyata sebuah penginapan kecil di daerah Cilotok. Tempat yang sepi, dan mencurigakan. Apalagi sepanjang perjalanan Roy tidak banyak bicara. Dia diam menyimpan sejuta misteri, dan hanya senyum-senyum penuh arti. Sejak dulu, Roy memang begitu sifatnya. Kadang rame seperti pasar malam, sejurus kemudian pendiam bagai patung Selamat Datang. Wajahnya yang ganteng serta sifatnya yang supel, menjadikannya anak gaul. Dari kelompok kutu buku sampai geng motor kenal dia. Roy juga playboy kelas berat. Pacarnya banyak, ada dimana-mana. Makanya Inga sering kesal kalau Roy menggodanya. Sebal karena cemburu dan gak pernah di tembak sampai sekarang!

Penginapan yang disewa Roy tidak begitu besar. Di dalam ada beberapa unit laptop, printer, scanner, dan meja tempat segala macam barang. Dari kertas cover, stiker, kotak cd, dan lain-lain. Juga seorang cowok berkaca mata yang langsung berdiri dari sofa menyambut kedatangan mereka.

“Nga, kenalin rekan kerja kita juga, Alex. Lex, ini Inga yang gue critain tadi malem. Cantik’kan?” Terdengar suara Roy memecah keheningan. Cowok berkaca mata itu segera mengulurkan tangan dengan penuh senyuman. Inga menyambut tanpa antusias yang sama. “Selain translater, Alex punya chanel di luar negeri. Makanya job kita kali ini bukan hal cetek.”

Inga geram mendengarnya, “dari tadi lo masih saja misterius. Job apaan sih? Trus chanel apa lagi yang lo maksud? Dan…dan semua ini sebenarnya untuk apa? Gue puyeng, dah!”

Alex tertawa kecil melihat kebingungan Inga. Namun dia tidak mengatakan apapun selain kembali ke sofa dan menekuri laptopnya.

“Lo udah nonton filem 2012, Nga?” tanya Roy sembari melangkah ke lemari es. Dikeluarkannya dua botol coke, dan disodorkannya sebotol kepada Inga. Gadis itu menerima dengan enggan.

“Lo ngindarin pertanyaan gue?” jawab Inga balas bertanya.

“Gak juga. Ini erat hubungannya. Udeh belom?”

“Ya belom. Di Amrik aja baru 3 hari maen. Bioskop kita ya mesti ngantri.”

“Dvd?”

“Emang gampang ngedapetinnya? Udah lima kali gue mondar-mandir ke Sky Disc.” Gerutu Inga. 

“Menurut lo, banyak gak yang pengen nonton filem itu?”

“Bukan hanya banyak, tapi seluruh dunia, lagi.”

Roy tersenyum. Lalu diambilnya sebuah disc dari laci meja, dan diletakkannya di hadapan Inga. Gadis itu memandang cover disc tersebut dengan mata terbelalak.

“Gila, lo. Apaan nih?”

“Masternya. Langsung dari Amrik.”

Dengan tangan gemetar, Inga meraih disc 2012 yang tampak sangat menakjubkan itu. Ia sudah mengubek-ubek seluruh toko dvd di Jakarta. Tetapi semuanya mengatakan belum beredar. Tahu-tahu, dengan seenaknya Roy memperlihat disc tersebut seakan dia sudah memilikinya sejak jaman Majapahit.  Inga menelan ludah lalu memandang Roy tak percaya. “I...ini...original?”

"Yup!" jawab Roy santai. Lalu ia memperlihatkan beberapa disc lagi, yang membuat Inga, si maniak filem, hamper pingsan. New Moon, yang ada drakula tampan bernama Edward Cullen, plus para were wolf yang taka kalah kerennya. Dengar-dengar film itu baru dirilis di Hollywood. Jadi belom beredar. Tapi Raymond sudah memilikinya! Fantastis!! Dan
Serigala Terakhir! Itu filem dalam negeri. Paling sulit di cari DVDnya.. Biasanya, discnya baru keluar setelah filemnya empat bulan menginap di bioskop. Itupun harganya meni
muahallll euyy...!!!

"Oh ya ampun... Ya ampunn!!" seru Inga tak tau mesti berkata apa. Semua disc-disc itu belum beredar di tanah air. Tapi Raymond telah memilikinya!

 “Jangan pingsan dulu, non.” Roy menepuk bahu Inga pelan, “Lex, finish belom?”

Alex mengacungkan jempolnya, “Almost.” Jawabnya singkat.

Roy menatap Inga. Wajahnya mulai serius, membuat Inga gemetar, “dengan master-master ini, kita akan mempermudah seluruh dunia mendapatkan disc 2012, New Moon, dan Serigala Terakhir.”

“Ma...maksud lo?” tanya Inga masih bingung.

“Well, Alex mentranslate bahasanya. So, lo tinggal copy discnya. Cetak covernya. Sisanya gue yang urus.”

Perlu beberapa saat buat Inga untuk mencerna kata-kata Roy, “maksud lo, kita membajak filem-filem ini?”

Roy menggeleng, “No, honey bunny! Pembajakan dilakukan orang-orang yang gak bertanggung jawab. Mereka ke bioskop dengan membawa kamera tersembunyi. Lalu mencetak ribuan keping hingga merugikan pemerintah. Dan hasilnya juga 99% ancur! Nah, ini jauh berbeda. Pertama, kita hanya mengcopy beberapa keping untuk beberapa kenalan saja. Jadi gak merugikan pemerintah. Kedua, kita langsung dari disc originalnya. Jadi hasilnya 100% bagus. Ini disebut mengcopy, bukan membajak.”

 “Apakah itu beda? Kan sama-sama memperbanyak sebuah hasil karya.”

“Tapi tak banyak, Nga. Hanya untuk teman-teman saja.”

“Berapa banyak?”

Roy mulai mengeluarkan toples-toples berisi disc kosong dari dalam koper yang dibawanya tadi, “Tidak sampai 100 keping.”

“Serius?”

Roy mengangkat tangannya, “Sumpah Pramuka!” katanya membuat Alex tertawa.

“Hanya untuk beberapa kenalan. Tak lebih.” Tegas Inga lagi.

Roy mengangguk pasti. Saat Inga mulai menyentuh sebuah laptop, Roy langsung menelepon beberapa orang untuk melakukan negosiasi. Bicaranya penuh kode dan amat rahasia. Tetapi Inga percaya kepada Roy. Cowok itu emang penuh inspiratif. Waktu di SMU, Roy selalu jadi penyelenggara segala macam acara. Setelah tamat, Inga kehilangan kabarnya hingga beberapa hari yang lalu Roy menyapanya di facebook. Dan mengajaknya join. Kalau bukan Roy, pasti Inga akan menolak mentah-mentah. Dari dulu dia menjadi secret admirer-nya Roy. Siapa kira hari ini, cowok itu berada begitu dekat dengannya. Satu ruangan dan seatap. Bahkan Inga merasa Roy selalu memperhatikannya dan menatapnya dengan mesra. Jujur, Inga merasa amat sangat ge-er. 

Menjelang siang, Roy kembali mengangkat teleponnya, “gue mau pesan makan siang. Lo mau makan apa, Nga? Lex?”

“Gue pecel lele dan jus tomat aja.” Jawab Alex yang tak pernah lepas dari laptopnya. Bahkan ke toilet sekalipun.

Inga menggeliat sebentar, lalu menggosok-gosok matanya yang perih, “gue mau nasi padang.”

Roy melongo. Lalu tertawa, “Bule apaan lo doyan nasi padang?”

Inga manyun, “dari pada lo, kena cabe dikit aja langsung ketombean.”

“Hei, gue gatel-gatel karena alergi pedas,tau!”

“Jangan lupa tempe dan tahu goreng. Minumnya es teh manis. Kopinya nambah, nih.” Ujar Inga gak perduli.

Roy menggeleng-gelengkan kepala. Setelah memesan beberapa menu untuk makan siang mereka, dia mendekati Inga yang keturunan Indo-German tersebut, dan berbisik, “rambut pirang, selera pribumi banget.” 

Inga melirik sekilas, melihat semyum Roy yang amat memikat, “Sirik aja lo. Gue aja bangga.”

“Gue juga bangga sama lo.” Roy berkata lembut di telinga Inga, membuat gadis itu merinding, “Hasil kerja lo bagus. Rapi. Indah. Gue suka banget.” Katanya dengan nada menggoda. Lalu tiba-tiba kecupannya mendarat di cuping telinga Inga. Ciuman mendadak itu membuat Inga terkejut dan langsung menyikut dada Roy. Seketika cowok itu roboh kelantai.

“Aduuuh...” erangnya memegang dadanya yang sakit.

“Sekali jangan macem-macem, selamanya jangan macem-macem!” Desis Inga tegas. Lagi-lagi Alex terkekeh dari sofanya.

“Gue ‘kan cuma nyium kuping lu dikit...”

Inga cuek.

***

Berulang kali Inga mencoba menelepon Roy. Atau mengecek statusnya di facebook. Tapi hpnya tidak aktip sama sekali. Statusnya juga masih yang kemaren. Masih mengingatkan Inga untuk mengundangnya saat wisuda. Padahal seminggu yang lalu, saat di Bogor, cowok itu berkeras banget minta diundang. Sekarang Inga sudah di rumah. Teman-temannya juga udah berdatangan karena dia emang mengadakan acara kecil-kecilan sepulang wisuda. Papa dan mama, serta Evelyn adiknya, sibuk kesana kemari menyapa orang-orang, menghidangkan makanan, membawakan minuman, dan segala hal yang harusnya menjadi tugas Inga sebagai si empunya acara.

“Masih belum ada jawaban, kak?” tanya Evelyn di pintu kamar.

Inga mengangguk, “padahal sebelumnya dia ngotot banget minta di undang.”

“Kak Roy ‘kan emang konyol, kak. Ilang timbul seenak udelnya.” Komen Evelyn cekikikan.

Inga manyun. Dia ingat saat Roy menulis angka 25 juta di lembaran ceknya, upah atas kerja samanya mengcopy 90 keping Dvd. Waktu itu Inga menolak karena menurutnya jumlah itu kebanyakan. Tetapi seperti biasa, Roy hanya tersenyum penuh arti sambil mengatakan ilmu pengetahuan mahal harganya. Sakin banyaknya, Inga sampai takut memberitahu ortu dan adiknya. Sampai sekarang, uang itu masih utuh di rekeningnya, sebab dia masih bingung memikirkan cara untuk menghabiskannya.

Tiba-tiba mama muncul dari belakang Evelyn. Wajahnya pucat. Matanya yang biru menggelap menatap Inga. “Sayang...itu ada...yang mencarimu.. Me...mereka...”

Inga melesat keluar kamar. Dia tahu, yang datang itu  pasti berkenaan dengan hilangnya Roy. Namun alangkah terkejutnya Inga saat melihat beberapa polisi tengah menantinya. 

“Nona Inga Van Grondel?” terdengar suara salah seorang polisi yang sudah berada di ruang tamu yang hening. Semua tamunya mematung, memandang mereka.

“Iya, saya sendiri.”

“Maaf nona, kami terpaksa menangkap anda.” Seru seorang polisi tanpa perasaan. Inga bagai disambar petir mendengar kata-kata polisi tersebut.

Papa langsung memegang bahu Inga, “Saya ayahnya. Boleh tahu atas tuduhan apa?”

“Nona Inga Van Grondel telah memproduksi ribuan keping Dvd bajakan, serta menyebarkan luaskannya hingga ke seluruh Asia. Nona Inga telah merugikan pemerintah sebesar miliaran rupiah dan menyebabkan bioskop di seluruh Indonesia kehilangan penonton. Ini surat penangkapan anak anda.”

“Oh tidak...tidak...” Mama hampir pingsan mendengarnya. Lututnya melemas. Apalagi saat polisi memborgol Inga, dan membawa putrinya masuk ke mobil polisi. “Anak saya tidak mungkin melakukan hal sekeji itu, pak. Benar ‘kan Inga? Katakan kalau semua tuduhan itu tidak benar, sayang. Inga? Inga?”

“Inga?”

Inga tak bergeming. Dia shock. Bingung. Resah. Takut. Pusing. Mual. Langit bagai runtuh menimpanya. Bumi bagai terbelah, persis seperti di film 2012 yang sudah ditontonnya. Pantas saja Roy begitu memperhatikannya. Ternyata cowok itu tengah mencuri ilmunya. Dan kenyataan itu membuat dunia bagai kiamat, sampai terasa olehnya bahunya diguncang dengan keras.

“Nga!...Inga!...Inga!...”

Inga tersentak kaget dengan mulutnya megap-megap. Paru-parunya menjerit meminta asupan oksigen sebanyak-banyaknya. Lalu matanya terpentang lebar menatap ...

“Roy?”
Astaga, Nga. Pantes lo gak turun-turun, taunya lo molor disini.”

Inga menyapu peluh yang menetes di jidatnya saat menyadari dirinya ternyata masih di dalam bis jurusan Jakarta-Bogor yang dinaikinya tadi. Pastilah ia tertidur seperti kerbau dan tidak tahu kalau bis sudah sampai ke terminal akhir, “Gue...ternyata mimpi...” gumamnya terbata-bata. Buru-buru ia turun dari bis yang sudah kosong tersebut. Roy mengikuti dari belakang sambil menyeret koper birunya. Terminal bis Mega Mendung tampak ramai pagi itu. Sambil bergidik membayangkan mimpinya yang barusan, Inga melirik koper yang diseret-seret Roy. “Okey, sekarang jelasin maksud lo ngajak ketemu gue disini.”

“Serius amat. Nyantai aja lagi.” Sahut Roy tersenyum penuh arti.

“Tapi gue mau serius nih. Apa yang ingin lo sampaikan?”

“Well, seperti yang udah gue katakan di facebook, gue ada job buat lo.”

Inga menelan ludah dan kembali melirik koper Roy penuh curiga. Apakah isinya ribuan keeping dvd kosong??

“Job apaan? Ada hubungannya dengan keahlian gue di bidang komputer ya?”

Roy menyeringai, “Wow...Amazing! Lo bisa membaca pikiran gue, Nga.” Katanya takjub. Lalu mendadak muncul seorang pria berkaca mata, merubah muka Inga seputih kapur. “Oh ya, Nga. Ini rekan kerja kita juga. Namanya...”

“Alex.” Desis Inga membuat cowok itu melongo. Roy semakin heran.

“Lo kenal dia?” tanyanya menatap mata biru Inga.

Inga menggeleng. Lalu mundur ketakutan, “Sorry, Roy. Gue gak mau kolaborasi bareng lo. Gue...gue mau balik ke Jakarta aja sekarang.” 

“Loh...kok...Inga, tunggu!...Inga...” panggil Roy bingung. Dia ingin mengejar Inga yang setengah berlari mendapatkan loket tiket menuju Jakarta. Tetapi ditahan oleh Alex.

“Itu cewek yang lo critain di telepon tadi malem?”

“Iya.”

“Napa sikapnya kaya abis ngeliat setan gitu?”

“Entahlah. Gue juga bingung, Lo kali, Lex, yang muncul tiba-tiba kayak setan!” Gerutu Roy terduduk lemas di atas kopernya. Alex terkekeh dan memandang prihatin. “Inga…Inga. Katanya dulu pingin bikin filem documenter, udah mau diajak, kok malah kabur…”

“Lo bawa koper, isinya apaan sih?” tanya Alex.

“Ya kamera dan perlengkapan bikin filem lainnya, emang lo kira apa?”

Alex angkat bahu.

TAMAT



#OneDayOnePost
#DayFourteen
#BayatHutang
Reactions

0 Comments: