Jangan Dimakan!


"Jangan dimakan!"

“Hah? Apa?” tanyaku menoleh ke belakang. Tetapi tidak ada seorangpun di sana. Jadi, suara siapa yang kudengar tadi?  

“Jangan dimakan!” bisikan itu kembali terdengar.

“Hei, siapa di situ?” teriakku cepat. Kuperiksa satu persatu kamar-kamar wc di toilet itu. Kosong. Ya, ampun! Apa aku sedang berhalusinasi?

“Jangan dimakan!”

Satu bisikan lagi yang langsung membuatku takut dan menghambur keluar. Toilet setan! Ada suara, namun tak ada pemiliknya, pikirku segera bergabung dengan seluruh keluargaku di rumah makan. Di sana, Ayah dan Ibu sedang berbicara dengan pemilik rumah makan. Lalu kedua kakakku, serta Paman dan Bibi, kami semua duduk menghadap ke meja makan dengan wajah tercengang.
Yah, gimana tidak? Ada begitu banyak hidangan di atas. Bukan hanya nasi, bermacam-macam ikan, daging, dan sayuran, tetapi juga aneka kue, minuman dan buah-buahan. Benar-benar mengundang selera. Namun anehnya, semuanya gratis! Kata pemilik rumah makan, kami adalah tamu istemewa. Jadi tak perlu membayar. Aneh, kan? 

Bahkan, sejak awal, Ayah bilang, perjalanan kami memang terasa aneh. Tiba-tiba cuaca berkabut tebal, matahari terbenam lebih cepat dari biasanya, lalu keempat ban mobil Ayah bocor secara bersamaan.

“Tak perlu sungkan-sungkan, ayo, silahkan makan, semuanya gratis kok,” terdengar suara pemilik rumah makan itu ramah. Bahkan ia dan para pembantunya dengan tangkas menuangkan makanan ke masing-masing piring kami. Padahal Ayah dan Ibu sudah menolak dengan halus. Dan saat kulihat kedua kakakku, paman, dan bibi mulai mengulurkan tangan untuk mengambil makanan tersebut, suara di toilet, kembali menggema di kepalaku. 

“Jangan dimakan! Jangan dimakan!”

Ah, itu pasti sebuah peringatan untuk ini. Bisikan itu melarang kami untuk makan, meski aku tidak tahu apa alasannya. Tapi ... bagaimana aku mampu menghentikan selera dan rasa lapar yang menguasai kami? 

“Pa, Ma, jangan ....” suaraku tenggelam dalam deruan haru biru pujian dan ucapan terima kasih atas makanan yang akan kami santap. Lagi pula, siapa yang akan mendengar larangan anak berusia enam tahun?
Terpaksa kuputuskan untuk melakukan sesuatu yang paling nakal, yang pernah terpikirkan olehku. Aku naik ke atas kursi dan mengencingi semua makanan di atas meja, membuat keluargaku tercengang dan tak jadi makan. Sementara semua orang di terminal aneh itu mendadak meraung marah dan mengamuk. Mereka tampak menggeletar kesakitan. Lalu meledak menjadi debu dan lenyap. Hanya tinggal kami sekeluarga berdiri terbengong, di tengah hutan.

-end- 
  
#OneDayOnePost
#Day15

2012

Terminal bis Mega Mendung cukup ramai pagi ini hingga sulit bagi Inga mencari cowok yang ingin bertemu dengannya. Tetapi samar-samar dilihatnya Roy melangkah membelah keramaian dengan mudahnya. Wajahnya cerah. Kemejanya merah muda – selera yang aneh - berpadu  jeans belel berwarna tak jelas. Di belakangnya terseret-seret sebuah tas koper berwarna biru.

“Sorry, gal! Macet. Udah lama nunggu?” sapanya ramah. Tangannya terbuka lebar dan mulutnya menyosor hendak mencium pipi Inga. Namun gadis itu cepat-cepat menangkap muka Roy, dan membuangnya kesamping.

“Genit amat sih lo!” makinya membuat Roy terkekeh. Giginya yang berbaris rapi tampak putih bersinar. 

“Gitu aja nolak. Dulu suka.”

“Dulu kapan?”

“Waktu SMU.”

“Ngimpi, kali lo.”

“Jadi gak pernah ya?”

Inga meringis. Nih cowok dari dulu memang perayu ulung, tapi gak pernah serius! “Okey.To the point aja. Untuk apa kita di sini? Napa gak di Jakarta aja?” tanya Inga seraya melirik jam tangannya, “lo tau besok gue meja ijo. Jadi gak bisa lama-lama.”

Roy tersenyum manis, “itu yang gue suka dari lo, Nga. Walo udah di ujung tanduk, tapi lo masih mau ketemu gue.”

“Makanya, jangan buang-buang waktu.” Timpal Inga cepat.

“Well, seperti yang udah gue katakan di facebook, gue ada job buat lo.”

“Iye, job apaan?”

“Sorry, gal. Masih secret.”

Inga mendelik, “Gue pulang nih.”

Roy tertawa lebar, “Gitu aja ngambek. Ya udah. Ntar gue jelasin di hotel.”

Inga langsung berdiri, “lo mau ngajak gue nginap?” tanyanya melirik koper Roy yang tergeletak di lantai.

“Emang lo mau?”

“Tak sudi!”

Roy terkekeh, “Berarti kita bukan mau nginap.”

“Jadi untuk apa ke hotel?” tanya Inga curiga. Matanya menyipit waspada akan bahaya, “Lo mau ngejual gue ya?”

“Emang masih ada yang minat sama cewek setua lo?”

“Kalo gitu, mau apa ke hotel?”

Roy melirik kekiri dan kekanan, membuat Inga senewen. Lalu dia mendekat ketelinga gadis itu, “jobnya ada di hotel.”

“Okey, tapi job apaan?”

“Pokoknya kerja mudah, uangnya banyak.”

“Lo mucikari ya?”

Spontan Roy tertawa terbahak-bahak, “dari tadi otak lo ngeres mulu, Nga. Kebanyakan belajar kurang gaul, lo.”

“Abis, apaan dong? Gue gak mau ngikutin lo kalo maksud lo gak jelas.”

Roy menghela nafas panjang, “Oke. Gue kasih cluenya. Ini berkaitan dengan keahlian lo di bidang komputer. Jadi enggak ada hubungannya dengan pornografi.”

“Trus, napa mesti di hotel?”

“Itu tempat yang paling aman. Ayo.”

*

Hotel yang d maksud Roy ternyata sebuah penginapan kecil di daerah Cilotok. Tempat yang sepi, dan mencurigakan. Apalagi sepanjang perjalanan Roy tidak banyak bicara. Dia diam menyimpan sejuta misteri, dan hanya senyum-senyum penuh arti. Sejak dulu, Roy memang begitu sifatnya. Kadang rame seperti pasar malam, sejurus kemudian pendiam bagai patung Selamat Datang. Wajahnya yang ganteng serta sifatnya yang supel, menjadikannya anak gaul. Dari kelompok kutu buku sampai geng motor kenal dia. Roy juga playboy kelas berat. Pacarnya banyak, ada dimana-mana. Makanya Inga sering kesal kalau Roy menggodanya. Sebal karena cemburu dan gak pernah di tembak sampai sekarang!

Penginapan yang disewa Roy tidak begitu besar. Di dalam ada beberapa unit laptop, printer, scanner, dan meja tempat segala macam barang. Dari kertas cover, stiker, kotak cd, dan lain-lain. Juga seorang cowok berkaca mata yang langsung berdiri dari sofa menyambut kedatangan mereka.

“Nga, kenalin rekan kerja kita juga, Alex. Lex, ini Inga yang gue critain tadi malem. Cantik’kan?” Terdengar suara Roy memecah keheningan. Cowok berkaca mata itu segera mengulurkan tangan dengan penuh senyuman. Inga menyambut tanpa antusias yang sama. “Selain translater, Alex punya chanel di luar negeri. Makanya job kita kali ini bukan hal cetek.”

Inga geram mendengarnya, “dari tadi lo masih saja misterius. Job apaan sih? Trus chanel apa lagi yang lo maksud? Dan…dan semua ini sebenarnya untuk apa? Gue puyeng, dah!”

Alex tertawa kecil melihat kebingungan Inga. Namun dia tidak mengatakan apapun selain kembali ke sofa dan menekuri laptopnya.

“Lo udah nonton filem 2012, Nga?” tanya Roy sembari melangkah ke lemari es. Dikeluarkannya dua botol coke, dan disodorkannya sebotol kepada Inga. Gadis itu menerima dengan enggan.

“Lo ngindarin pertanyaan gue?” jawab Inga balas bertanya.

“Gak juga. Ini erat hubungannya. Udeh belom?”

“Ya belom. Di Amrik aja baru 3 hari maen. Bioskop kita ya mesti ngantri.”

“Dvd?”

“Emang gampang ngedapetinnya? Udah lima kali gue mondar-mandir ke Sky Disc.” Gerutu Inga. 

“Menurut lo, banyak gak yang pengen nonton filem itu?”

“Bukan hanya banyak, tapi seluruh dunia, lagi.”

Roy tersenyum. Lalu diambilnya sebuah disc dari laci meja, dan diletakkannya di hadapan Inga. Gadis itu memandang cover disc tersebut dengan mata terbelalak.

“Gila, lo. Apaan nih?”

“Masternya. Langsung dari Amrik.”

Dengan tangan gemetar, Inga meraih disc 2012 yang tampak sangat menakjubkan itu. Ia sudah mengubek-ubek seluruh toko dvd di Jakarta. Tetapi semuanya mengatakan belum beredar. Tahu-tahu, dengan seenaknya Roy memperlihat disc tersebut seakan dia sudah memilikinya sejak jaman Majapahit.  Inga menelan ludah lalu memandang Roy tak percaya. “I...ini...original?”

"Yup!" jawab Roy santai. Lalu ia memperlihatkan beberapa disc lagi, yang membuat Inga, si maniak filem, hamper pingsan. New Moon, yang ada drakula tampan bernama Edward Cullen, plus para were wolf yang taka kalah kerennya. Dengar-dengar film itu baru dirilis di Hollywood. Jadi belom beredar. Tapi Raymond sudah memilikinya! Fantastis!! Dan
Serigala Terakhir! Itu filem dalam negeri. Paling sulit di cari DVDnya.. Biasanya, discnya baru keluar setelah filemnya empat bulan menginap di bioskop. Itupun harganya meni
muahallll euyy...!!!

"Oh ya ampun... Ya ampunn!!" seru Inga tak tau mesti berkata apa. Semua disc-disc itu belum beredar di tanah air. Tapi Raymond telah memilikinya!

 “Jangan pingsan dulu, non.” Roy menepuk bahu Inga pelan, “Lex, finish belom?”

Alex mengacungkan jempolnya, “Almost.” Jawabnya singkat.

Roy menatap Inga. Wajahnya mulai serius, membuat Inga gemetar, “dengan master-master ini, kita akan mempermudah seluruh dunia mendapatkan disc 2012, New Moon, dan Serigala Terakhir.”

“Ma...maksud lo?” tanya Inga masih bingung.

“Well, Alex mentranslate bahasanya. So, lo tinggal copy discnya. Cetak covernya. Sisanya gue yang urus.”

Perlu beberapa saat buat Inga untuk mencerna kata-kata Roy, “maksud lo, kita membajak filem-filem ini?”

Roy menggeleng, “No, honey bunny! Pembajakan dilakukan orang-orang yang gak bertanggung jawab. Mereka ke bioskop dengan membawa kamera tersembunyi. Lalu mencetak ribuan keping hingga merugikan pemerintah. Dan hasilnya juga 99% ancur! Nah, ini jauh berbeda. Pertama, kita hanya mengcopy beberapa keping untuk beberapa kenalan saja. Jadi gak merugikan pemerintah. Kedua, kita langsung dari disc originalnya. Jadi hasilnya 100% bagus. Ini disebut mengcopy, bukan membajak.”

 “Apakah itu beda? Kan sama-sama memperbanyak sebuah hasil karya.”

“Tapi tak banyak, Nga. Hanya untuk teman-teman saja.”

“Berapa banyak?”

Roy mulai mengeluarkan toples-toples berisi disc kosong dari dalam koper yang dibawanya tadi, “Tidak sampai 100 keping.”

“Serius?”

Roy mengangkat tangannya, “Sumpah Pramuka!” katanya membuat Alex tertawa.

“Hanya untuk beberapa kenalan. Tak lebih.” Tegas Inga lagi.

Roy mengangguk pasti. Saat Inga mulai menyentuh sebuah laptop, Roy langsung menelepon beberapa orang untuk melakukan negosiasi. Bicaranya penuh kode dan amat rahasia. Tetapi Inga percaya kepada Roy. Cowok itu emang penuh inspiratif. Waktu di SMU, Roy selalu jadi penyelenggara segala macam acara. Setelah tamat, Inga kehilangan kabarnya hingga beberapa hari yang lalu Roy menyapanya di facebook. Dan mengajaknya join. Kalau bukan Roy, pasti Inga akan menolak mentah-mentah. Dari dulu dia menjadi secret admirer-nya Roy. Siapa kira hari ini, cowok itu berada begitu dekat dengannya. Satu ruangan dan seatap. Bahkan Inga merasa Roy selalu memperhatikannya dan menatapnya dengan mesra. Jujur, Inga merasa amat sangat ge-er. 

Menjelang siang, Roy kembali mengangkat teleponnya, “gue mau pesan makan siang. Lo mau makan apa, Nga? Lex?”

“Gue pecel lele dan jus tomat aja.” Jawab Alex yang tak pernah lepas dari laptopnya. Bahkan ke toilet sekalipun.

Inga menggeliat sebentar, lalu menggosok-gosok matanya yang perih, “gue mau nasi padang.”

Roy melongo. Lalu tertawa, “Bule apaan lo doyan nasi padang?”

Inga manyun, “dari pada lo, kena cabe dikit aja langsung ketombean.”

“Hei, gue gatel-gatel karena alergi pedas,tau!”

“Jangan lupa tempe dan tahu goreng. Minumnya es teh manis. Kopinya nambah, nih.” Ujar Inga gak perduli.

Roy menggeleng-gelengkan kepala. Setelah memesan beberapa menu untuk makan siang mereka, dia mendekati Inga yang keturunan Indo-German tersebut, dan berbisik, “rambut pirang, selera pribumi banget.” 

Inga melirik sekilas, melihat semyum Roy yang amat memikat, “Sirik aja lo. Gue aja bangga.”

“Gue juga bangga sama lo.” Roy berkata lembut di telinga Inga, membuat gadis itu merinding, “Hasil kerja lo bagus. Rapi. Indah. Gue suka banget.” Katanya dengan nada menggoda. Lalu tiba-tiba kecupannya mendarat di cuping telinga Inga. Ciuman mendadak itu membuat Inga terkejut dan langsung menyikut dada Roy. Seketika cowok itu roboh kelantai.

“Aduuuh...” erangnya memegang dadanya yang sakit.

“Sekali jangan macem-macem, selamanya jangan macem-macem!” Desis Inga tegas. Lagi-lagi Alex terkekeh dari sofanya.

“Gue ‘kan cuma nyium kuping lu dikit...”

Inga cuek.

***

Berulang kali Inga mencoba menelepon Roy. Atau mengecek statusnya di facebook. Tapi hpnya tidak aktip sama sekali. Statusnya juga masih yang kemaren. Masih mengingatkan Inga untuk mengundangnya saat wisuda. Padahal seminggu yang lalu, saat di Bogor, cowok itu berkeras banget minta diundang. Sekarang Inga sudah di rumah. Teman-temannya juga udah berdatangan karena dia emang mengadakan acara kecil-kecilan sepulang wisuda. Papa dan mama, serta Evelyn adiknya, sibuk kesana kemari menyapa orang-orang, menghidangkan makanan, membawakan minuman, dan segala hal yang harusnya menjadi tugas Inga sebagai si empunya acara.

“Masih belum ada jawaban, kak?” tanya Evelyn di pintu kamar.

Inga mengangguk, “padahal sebelumnya dia ngotot banget minta di undang.”

“Kak Roy ‘kan emang konyol, kak. Ilang timbul seenak udelnya.” Komen Evelyn cekikikan.

Inga manyun. Dia ingat saat Roy menulis angka 25 juta di lembaran ceknya, upah atas kerja samanya mengcopy 90 keping Dvd. Waktu itu Inga menolak karena menurutnya jumlah itu kebanyakan. Tetapi seperti biasa, Roy hanya tersenyum penuh arti sambil mengatakan ilmu pengetahuan mahal harganya. Sakin banyaknya, Inga sampai takut memberitahu ortu dan adiknya. Sampai sekarang, uang itu masih utuh di rekeningnya, sebab dia masih bingung memikirkan cara untuk menghabiskannya.

Tiba-tiba mama muncul dari belakang Evelyn. Wajahnya pucat. Matanya yang biru menggelap menatap Inga. “Sayang...itu ada...yang mencarimu.. Me...mereka...”

Inga melesat keluar kamar. Dia tahu, yang datang itu  pasti berkenaan dengan hilangnya Roy. Namun alangkah terkejutnya Inga saat melihat beberapa polisi tengah menantinya. 

“Nona Inga Van Grondel?” terdengar suara salah seorang polisi yang sudah berada di ruang tamu yang hening. Semua tamunya mematung, memandang mereka.

“Iya, saya sendiri.”

“Maaf nona, kami terpaksa menangkap anda.” Seru seorang polisi tanpa perasaan. Inga bagai disambar petir mendengar kata-kata polisi tersebut.

Papa langsung memegang bahu Inga, “Saya ayahnya. Boleh tahu atas tuduhan apa?”

“Nona Inga Van Grondel telah memproduksi ribuan keping Dvd bajakan, serta menyebarkan luaskannya hingga ke seluruh Asia. Nona Inga telah merugikan pemerintah sebesar miliaran rupiah dan menyebabkan bioskop di seluruh Indonesia kehilangan penonton. Ini surat penangkapan anak anda.”

“Oh tidak...tidak...” Mama hampir pingsan mendengarnya. Lututnya melemas. Apalagi saat polisi memborgol Inga, dan membawa putrinya masuk ke mobil polisi. “Anak saya tidak mungkin melakukan hal sekeji itu, pak. Benar ‘kan Inga? Katakan kalau semua tuduhan itu tidak benar, sayang. Inga? Inga?”

“Inga?”

Inga tak bergeming. Dia shock. Bingung. Resah. Takut. Pusing. Mual. Langit bagai runtuh menimpanya. Bumi bagai terbelah, persis seperti di film 2012 yang sudah ditontonnya. Pantas saja Roy begitu memperhatikannya. Ternyata cowok itu tengah mencuri ilmunya. Dan kenyataan itu membuat dunia bagai kiamat, sampai terasa olehnya bahunya diguncang dengan keras.

“Nga!...Inga!...Inga!...”

Inga tersentak kaget dengan mulutnya megap-megap. Paru-parunya menjerit meminta asupan oksigen sebanyak-banyaknya. Lalu matanya terpentang lebar menatap ...

“Roy?”
Astaga, Nga. Pantes lo gak turun-turun, taunya lo molor disini.”

Inga menyapu peluh yang menetes di jidatnya saat menyadari dirinya ternyata masih di dalam bis jurusan Jakarta-Bogor yang dinaikinya tadi. Pastilah ia tertidur seperti kerbau dan tidak tahu kalau bis sudah sampai ke terminal akhir, “Gue...ternyata mimpi...” gumamnya terbata-bata. Buru-buru ia turun dari bis yang sudah kosong tersebut. Roy mengikuti dari belakang sambil menyeret koper birunya. Terminal bis Mega Mendung tampak ramai pagi itu. Sambil bergidik membayangkan mimpinya yang barusan, Inga melirik koper yang diseret-seret Roy. “Okey, sekarang jelasin maksud lo ngajak ketemu gue disini.”

“Serius amat. Nyantai aja lagi.” Sahut Roy tersenyum penuh arti.

“Tapi gue mau serius nih. Apa yang ingin lo sampaikan?”

“Well, seperti yang udah gue katakan di facebook, gue ada job buat lo.”

Inga menelan ludah dan kembali melirik koper Roy penuh curiga. Apakah isinya ribuan keeping dvd kosong??

“Job apaan? Ada hubungannya dengan keahlian gue di bidang komputer ya?”

Roy menyeringai, “Wow...Amazing! Lo bisa membaca pikiran gue, Nga.” Katanya takjub. Lalu mendadak muncul seorang pria berkaca mata, merubah muka Inga seputih kapur. “Oh ya, Nga. Ini rekan kerja kita juga. Namanya...”

“Alex.” Desis Inga membuat cowok itu melongo. Roy semakin heran.

“Lo kenal dia?” tanyanya menatap mata biru Inga.

Inga menggeleng. Lalu mundur ketakutan, “Sorry, Roy. Gue gak mau kolaborasi bareng lo. Gue...gue mau balik ke Jakarta aja sekarang.” 

“Loh...kok...Inga, tunggu!...Inga...” panggil Roy bingung. Dia ingin mengejar Inga yang setengah berlari mendapatkan loket tiket menuju Jakarta. Tetapi ditahan oleh Alex.

“Itu cewek yang lo critain di telepon tadi malem?”

“Iya.”

“Napa sikapnya kaya abis ngeliat setan gitu?”

“Entahlah. Gue juga bingung, Lo kali, Lex, yang muncul tiba-tiba kayak setan!” Gerutu Roy terduduk lemas di atas kopernya. Alex terkekeh dan memandang prihatin. “Inga…Inga. Katanya dulu pingin bikin filem documenter, udah mau diajak, kok malah kabur…”

“Lo bawa koper, isinya apaan sih?” tanya Alex.

“Ya kamera dan perlengkapan bikin filem lainnya, emang lo kira apa?”

Alex angkat bahu.

TAMAT



#OneDayOnePost
#DayFourteen
#BayatHutang

5 Tips Menghadapi Mantan Yang Mengganggu

Di dalam sebuah hubungan, terdapat dua hati manusia yang berbeda karakter dan watak. Bagi sebagian orang, hal tersebut dijadikan alasan untuk saling melengkapi. Namun tak semua hubungan berakhir dengan manis. Terkadang, kita harus menghadapi kegagalan dan harus putus darinya. Sayangnya, cukup banyak juga yang tidak terima dengan keputusan berpisah tersebut. Hingga kita masih saja harus berhadapan dengan 'sang mantan' yang mestinya sudah harus jauh-jauh dari kita. Dan jika sikap-sikap mantan sudah terasa mengganggu, lakukan 4 cara ini untuk menghadapinya.

1. Kamu wajib mencuekin dia.
Apapun yang dilakukannya, mungkin menarik perhatianmu saja. Siapa tahu dia masih belum dapat melupakanmu? Jangan marah. Apalagi panik. Yang harus kamu lakukan adalah mengacuhkannya. Lalu menghindarlah agar dia paham dan tak lagi mengganggumu.

2. Tunjukkan kalau kamu sudah bahagia.
Setidaknya, jangan pernah memperlihatkan wajah sedihmu di depannya. Tunjukkan, meski tanpanya, kamu juga bisa tertawa dan berbahagia. Lagipula, kamu punya banyak teman yang bisa membuatmu melupakan masala lalumu, kan?

3. Sulit menghindari pertemuan dengannya? Terpaksa kamu harus hadapi dia.
Yah, karena satu kampus, atau satu kantor, terkadang kita tidak bisa menghindarinya. Jika demikian situasinya, mau tak mau kamu harus menghadapinya. Bersikaplah normal seperti saat kamu menghadapi orang lain. Dan berkata-katalah dengan halus namun tegas, jika dia mulai mengganggumu. 

4. Kenalkan ke teman-temanmu.
Ini penting. Siapa tahu mereka jadian, kamu bisa terbebas darinya.

5. Cari pacar baru
Jika semua cara sudah kamu lakukan dan dia masih saja mengganggumu, buruan cari pacar baru dan menikahlah. Dengan begitu, mantan mana yang masih berani mengganggu? Heheheh.

Eh, tapi ... tapi ... perkataan terakhir ini tak berlaku bagi anak sekolah ya? Karena anak sekolah belum boleh pacaran. Apalagi menikah! Uh, capai dulu cita-citamu yang setinggi-tingginya, baru deh mikirin nikah, yah?
Iyaaaa...

#DayThirteen
#OneDayOnePost
#BayarHutangJuga

2 Kata Ajaib Untuk Menjadi Penulis Hebat



Seringkali kita kagum pada seorang karena hebat sekali menulis dan merangkai kata. Sedangkan kita hanya baru tahu ilmunya saja. Sering juga kita tersenyum, tertawa, terpana, terenyuh, sedih dan menginsafi diri setelah membaca satu tulisan dan kita ingin sekali bisa menulis seperti si penulis. Namun apa daya kita membuat satu paragraf yang baik dan benar saja susah minta ampun.

Lalu kita bertanya-tanya, bagaimana sih cara menjadi penulis hebat seperti penulis yang telah sukses itu?

Jawabannya ada pada dua kata ajaib ini: practice (latihan) yang massive (banyak).

Menulis itu adalah keahlian. Dan ketahuilah bahwa untuk menguasai satu atau beberapa keahlian intinya ada pada latihan (practice) yang banyak dengan berulang-ulang terus-menerus (massive).

Mari kita ambil sebuah contoh perbandingan:
Mengapa seorang bocah berumur satu atau dua tahun yang tinggal di negeri bule sana tidak pernah belajar bahasa inggris, namun ternyata mereka fasih sekali berbahasa inggris?

Lalu mengapa kita orang Indonesia (yang pernah mengenyam bangku sekolah pasti belajar bahasa inggris sekali seminggu) sedikit sekali yang bisa bahasa inggris?

Jawabannya karena bocah bule itu lebih banyak praktek bahasa inggris daripada kita. Mereka prakteknya setiap hari. Sedangkan kita hanya praktek seminggu sekali. Dan itupun kalo kita tidak bolos waktu jam belajar bahasa inggris.

Dan lebih parahnya lagi, ternyata kita sering diajarkan oleh orang yang belum tentu juga menguasai bahasa inggris (walau sering mengaku sarjana bahasa inggris! Maaf numpang nyindir… he.. he…).

Contoh ini sama halnya dengan kita bila dibandingkan dengan penulis sukses itu.
Mengapa kita susah sekali menciptakan tulisan yang menarik dan enak dibaca? Atau bahkan membuat satu paragraf yang baik dan benar saja susah minta ampun?

Karena kita jarang atau bahkan tidak pernah berlatih sekalipun. Sedangkan para penulis best seller atau penulis hebat lainnya itu bisa menulis dengan kualitas tinggi karena mereka memang gemar dan telah menulis tentang banyak hal.
Penulis best seller atau penulis hebat itu telah mempersembahkan waktu hidup mereka hanya untuk menulis, setiap hari walaupun hanya beberapa menit atau jam. Sehingga mereka menjadi diri mereka yang sekarang.

Namun anda jangan sedih dulu karena anda juga bisa seperti mereka. Syaratnya anda harus siap sedia memulai membiasakan diri anda untuk menulis setiap hari walaupun beberapa menit. Tidak ada yang instan disini. Anda hanya butuh dua kata ajaib ini untuk sukses dalam menulis: practice yang massive.

Sama seperti yang dikatakan oleh salah seorang penulis best seller Felix Siauw (Orang Asli Indonesia) dalam bukunya: How To Master Your Habits.

“Bila seseorang banyak melatih dan mengulang, terpaksa ataupun sukarela, dia pasti akan menguasai keahlian tertentu. Inilah namanya pembentukan kebiasaan alias habits.”

Hmm… Om Felix ini betul sekali. Bila kita banyak (massive) melatih (practice) dengan terpaksa ataupun sukarela kita pasti akan menguasai suatu keahlian termasuk keahlian menulis.

Apa yang dikatakan Om Felix ini sama seperti hukum sepuluh ribu jam alias The Rule of 10.000 Hours yang digagas oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers. Gladwell berargumentasi,

“Bahwa penguasaan dalam suatu bidang tertentu merupakan kunci utama dari kesuksesan, dan penguasaan tersebut hanya bisa diperoleh oleh seseorang jika telah melakukan latihan minimal 10.000 jam.”

Kalo dihitung-hitung, 10 ribu jam itu berarti kita harus berlatih menulis setiap hari selama dua tahun untuk menjadi penulis yang hebat!

Menurutku ada benarnya. Karena aku telah merasakannya. Saya merasakan kemampuan menulisku semakin bagus setiap harinya setelah menulis banyak hal selama satu atau dua tahun.

Tidak ada yang instan disini tidak ada yang megic, semua butuh proses terus-menerus. Kita harus menempuh suka dukanya dengan sabar sampai tulisan kita diakui oleh khalayak dan diterbitkan serta dinikmati.

Bagaimana denganmu? Apakah kamu siap untuk menjadi penulis hebat? Apakah kamu ingin melihat tulisan kamu diterbitkan? Atau kamu ingin melihat novel kesayanganmu dibeli dan diminati banyak orang?

Ya, Kita hanya butuh dua kata ajaib ini: practice yang massive. Titik tidak pake koma…!!!

Dan apakah kita siap sedia untuk melakukannya?

Yap, itu harus…. Kita harus siap menerapkan dua kata ajaib ini bila kita benar-benar ingin melihat tulisan atau bahkan novel kesayangan kita diterbitkan.

#DayTwelve
#OneDayOnePost
#MasihBayarHutang

Labirin Laba-Laba -4

EMPAT

“Kayanya yang satu ini engga ramah.” Bisik Dodi menelan ludah.

“Kamu menghancurkan sarangku dengan sapumu! Padahal aku baru saja menyelesaikannya!” sambung laba-laba itu lagi sambil maju selangkah demi selangkah mendekati Dodi n Nina, membuat kedua remaja itu tampak makin menciut!

“Dia…dia pasti yang tinggal di…di kolong meja mesin miniatur itu, Dod!” ujar Nina terbata-bata.

“Kamu hampir saja membunuhku kalau saja aku enggak langsung menyelamatkan diri!” terdengar suara laba-laba itu lagi. Kini hewan buas itu jaraknya hanya tinggal semeter dari Dodi n Nina.

“Aku…aku hanya melakukan perintahnya…” ucap Nina menunjuk kearah Dodi. Tuh cowo’ langsung mendelik.

“Dalam hal ini, kalian berdua sama-sama salah! Artinya, kamu berdua harus mendapatkan hukuman!” teriak laba-laba itu. Medadak kaki hewan itu mengeluarkan tali yang panjang, berputar-putar seperti laso yang langsung mengikat tubuh Dodi n Nina.

“Aduh…ampuuuunnnn…” teriak Nina merasa nyawanya udah di ujung tanduk. Dodi juga berteriak-teriak minta tolong bagai orang kehilangan akal!

“Tolooonggg….toloooonnnnnnnggggg!!!!!!!!” teriaknya kaya orang gila.
“Percuma kalian berteriak minta tolong.” Ujar laba-laba itu seraya menggulung tubuh Dodi n Nina dengan talinya yang kuat n kasar bagai tali kapal, “Enggak akan ada yang mendengar. Sebab mereka terlalu sibuk mengurus rumah-rumah mereka yang telah kalian hancurkan!”

Dodi n Nina berteriak-teriak tanpa harapan. Mereka diseret oleh laba-laba itu menuju dinding, dan terus ke sudut langit-langit, dan tau-tau mereka udah berada di jaring laba-laba sangar itu.

“Tolong…ampun…engga lagi-lagi…” rengek Dodi sungguh-sungguh. Kayanya ajal mereka sudah di depan mata. Laba-laba yang marah itu tampak engga mau memaafkan mereka.

“Iya…iya, tuan laba-laba, maafkanlah kami…” tambah Nina menangis terisak-isak.

“Uh, enak aja minta maaf. Setelah kalian tega-teganya menghancurkan rumah makhluk lain. Sungguh kalian ini makhluk barbar!” gerutu si laba-laba tertawa mengejek.

“Sudahlah diam! Aku mau makan malam. Biasanya aku suka makan lalat segar. Tapi karena aku sibuk membangun rumah ini, aku jadi enggak punya waktu lagi untuk berburu. Jadi, kalianlah gantinya!” ujar laba-laba itu mengikat serbet di lehernya, persis seperti mau makan di restoran mahal. Teriakan minta tolong Dodi n Nina engga mengganggu telinganya sama sekali. Tuh laba-laba malah bernyanyi-nyayi, “Tralala…lala…! Sedikit garam…” katanya menabur bubuk garam ke atas tubuh Dodi n Nina, hingga kedua remaja ini semakin keras berusaha melepaskan diri dari tali si laba-laba walopun usaha mereka sia-sia saja, “Sedikit merica…lalu kecap…”

Dodi n Nina ampir pingsan begitu mulut laba-laba itu udah begitu dekat dengan mereka, “Hm..nyyaaammm…kalian pasti enak sekali rasanya. Oh ya, apakah kalian enggak ingin mengucapkan selamat tinggal?” tanya laba-laba itu. Biasa, udah tradisi banyak hewan mempermainkan mangsanya sebelum memakannya!

“Ke…kenapa  kamu  berselera  banget  ingin  menyantap    kami? Ta..tapi kata si Bulu dan si Jangkung, laba-laba engga suka makan manusia…” teriak Nina melolong. Air matanya bercucuran seperti air hujan.

“Apa?” laba-laba hitam yang sudah memegang garpu dan pisau itu terkejut mendengar ucapan Nina, “Kalian kenal si Bulu dan si Jangkung?”

“Me..mereka teman kami. Iya kan,Dod?”

“Iya..iya. Me…mereka sangat baik sama kami, tuan laba-laba!” jawab Dodi cepat.

Laba-laba hitam itu diam sejenak. Dia tampak berpikir. Bahkan keenam matanya yang diatas kepala kelihatan menerawang, “Aku adalah sahabat si Bulu dan si Jangkung. Jadi aku enggak mungkin memakan teman mereka!”

“Wah..senangnya…” ucap Nina menelan ludah lega.

“Dengar ya!” kata laba-laba hitam itu sambil melepaskan ikatan  yang  melilit  tubuh Dodi n Nina, “Teman si Bulu dan si Jangkung adalah temanku juga. Meski kalian pernah merusak sarang baruku. Kalau begitu, akupun ingin berbuat baik kepada kalian. Kira-kira apa ada yang bisa kulakukan untuk kalian?”

Dodi n Nina menggosok-gosok tubuh mereka untuk menghilangkan rasa sakit akibat lilitan tali laba-laba tadi.

“Memang ada. Tapi kami engga tau apakah kamu bisa melakukanya atau…” kata Dodi ragu-ragu.

“Katakanlah, sobat!” kali ini laba-laba itu tampak lebih ramah di mata Dodi n Nina.

Maka…

“Memang agak sulit..” gumam si laba-laba berpikir sejenak. Satu kaki depannya menggaruk-garuk dagunya, “Tapi jangan kuatir. Aku ada akal!” katanya menyeringai. Lalu hewan itu menarik nafas sepanjang-panjangnya n bersiul sekuat-kuatnya. Begitu nyaring hingga Dodi terkejut n Nina buru-buru menutup telinga dengan kedua telapak tangannya.

Suuiiiiiiiiiiitt………!!!

Setelah beberapa detik, tampaklah ratusan…bahkan ribuan laba-laba bermunculan dari segala penjuru ruangan. Semuanya melangkah pasti mendekati tempat si laba-laba hitam berdiri.

“Si Jaring memanggil kita semua, ada apa ya?” terdengar suara si Bulu diantara ribuan suara-suara lainnya yang jaga bertanya-tanya pada temannya.

“Mungkin dia ingin berbagi lalat segar dengan kita. Nyam! Nyam!’ jawab lala-laba lain.

“Atau dia terjerat lagi di dalam sarangnya sendiri?” gumam si Jangkung terkekeh.

“Ada apa Jaring?” teriak hamper semua lala-laba.

Si laba-laba hitam yang ternyata bernama si Jaring, yang sedang berdiri tegak di atas meja menenangkan beberapa teman-temannya yang masih bersuara, “Dengar saudara-saudara. Teman kita yang berkaki dua dan bertangan dua  Ini punya masalah. Jadi mereka ingin minta tolong pada kita. Jadi yang harus kita lakukan adalah…”

Tak lama kemudian, tampaklah ribuan laba-laba bergerak bersama-sama menuju mesin miniatur yang ada di atas meja keramik.

“Kata si Jaring, benda inilah yang harus kita bungkus erat-erat.” Kata seekor laba-laba sambil menegluarkan benang jaringnya dan melilitkannya di pegangan tuas pada mesin pengubah tersebut.

“Ya! Lilit sekuat mungkin seperti kalau kalian menangkap lalat yang gendut!” kata laba-laba yang lain pula.

“Ayo! Ayo! Kalau kita bekerja beramai-ramai, hal yang mustahil pasti akan menjadi nyata!”

“Benar! Bersatu kita teguh, kalau bercerai pasti runtuh!”

“Woiii…jangan pelit Jambul! Gunakan benang yang tebal!”

“Tampanya benang-benang itu sangat halus. Apa akan cukup kuat menarik tuas itu ya?” gumam Dodi masih ragu-ragu.

“Tenang saja, Dod! Kamu enggak perlu kuatir. Jangan kamu lihat dari ukurannya, sebab benang kami bisa lebih kuat dari baja!” jawab si Jaring bangga.

Tak berapa lama….

Benang-benang ribuan laba-laba telah menggulung tuas mesin miniatur dengan tebalnya, lalu hewan-hewan itu tampak bersatu menarik kearah bawah.

“Ayo tariikk!!”

“….dan tarik…dan tarik…”

“Uh…lebih kuat kawan!...”

Nina meremas tangan Dodi sekuat tenaga, membuat cowo’ itu meringis, “Gua merasa inilah saatnya, Dod!”

Dodi mengangguk setuju, “Kalopun ini berhasil, siapa yang akan percaya pada kita?”

“Iya. Gua disini, tapi tetap ajah gua merasa engga percaya dengan semua kejadian yang telah kita alamin.” Jawab Nina jujur.

“Lihat, tuas itu sudah bergerak sidkit,” terdengar suara si jaring sambil melompat menjauh dari jarak tembak mesin miniatur tersebut, “Ok, jangan lupakan kami yaaaaa….”

Tepat pada saat suara si Jaring menggema, tau-tau tuas tertarik kebawah dengan cepat, lalu menembakkan sinar terang berasap ke arah Dodi n Nina berdiri. Lalu dalam beberapa detik saja, ukuran tubuh kedua sobat kita itu membesar secara ajaib.

“Woow!!...Aku merasa segede gunung!” teriak Dodi gembira.

Nina memeluk cowo’ itu sambil menangis bahagia, “Kita kembali keukuran normal, itu yang terpenting.’ Isaknya hampir tak terdengar.

Dodi menepuk-nepuk pundak Nina. Emang benar kata pepatah, sengsara membawa nikmat!

“Loh, rupanya anda disini, tuan Dodi. Kami sudah mencari kemana-mana. Bahkan aku sudah mencari keruangan ini sebanyak tiga kali!” terdengar suara bu Taris, sang sekretaris, malu-malu.

Nina melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya. Sementara Dodi tersenyum amat manis kepadanya. Lalu menoleh, “Kami abis main petak umpet, bu.” Katanya main mata pada Nina. Cewe’ itu tersenyum.

“Oh, baguslah kalau begitu, tuan. Tapi sekarang ini adalah waktunya anda untuk menjumpai raja minyak, si Kumis Licin itu. Dia sudah menunggu sejak tadi.” Kata bu Taris melangkah keluar dari gudang.

Dodi angkat bahu dan memandang Nina, “Kita selamat.” Ucapnya tersenyum manis.

Nina mengangguk, “Ya, berkat laba-laba.”

“Ya. Berkat si Bulu, Jangkung, Jaring, n ribuan teman-teman kita yang sekarang udah entah kemana.”

“Kalo begitu, minggu depan aja kita bersihkan gudang ini, Dod. Gua capek banget. Mau pulang.”

Dodi menangkap tangan Nina, dan menatap mata cewe’ itu, “Hm…gw juga capek. Tapi tetap aja harus kerja. Seandainya malam ini ada yang menemani gw makan malam, pasti rasa capek gw akan hilang dalam sekejap mata.”

Nina tersenyum, “Maksud lu?”

Dodi tertawa, “Pizza! Gw jemput jam 7 malam ya?”

“Pizza?,” Nina meringis, “Lu bener-bener engga romantis banget siyh, Dod! Masa ngedate ama cewe’ di Pizza? Arusnya ‘kan ke restoran, yang ada lilin n pelayan yang siap melayani. Apa lu engga punya uang? Yah, kalo bagitu, di Pizza juga okey lah…”

Si ceriwis Nina udah kembali. Dodi senang mendengar  tuh cewe’ bila sedang bekicau. Buru-buru digandengnya  sambil melangkah keluar dari gudang yang penuh dengan kenangan yang engga terlupakan tersebut.

“Well, anak muda Dodi Handoyo. Aku sudah memikirkan tawaran bisnis anda sejak pertemuan pertama kita tiga hari yang lalu.” Terdengar suara konglomerat perminyakan itu sambil mengepulkan asap cerutunya ke udara.

Dodi langsung mengambil posisi duduk di belakang meja kerjanya, “Artinya, bapak setuju menjual ladang minyak bapak kepada saya?”

Si Kumis Licin mengangguk-angguk sambil menyeringai, “Iya. Aku menerima tawaran anda….iiihh! Apa itu? Laba-laba!” teriak pria bertubuh besar dan berkumis licin yang menempel di atas bibirnya.

Dodi langsung melihat kelantai. Demikian juga Nina. Sementara si Kumis Licin cepat-cepat menggulung Koran, siap-siap untuk memukul.

“Rasakan ini, binatang jelek!” di ayunkannya pukulan korannya ke lantai. Plak! Plok! Terdengar suara pukulan bertubi-tubi dilantai. “Ini lagi! Aduh…meleset, sial!”

“Pak!” teriak Dodi cepat.

“Udah. Jangan kuatir anak muda. Akan kuhabisin binatang pengganggu ini!” ujar pak Kumis Licin sok pahlawan. Lalu dia menungging mencari laba-laba tadi sampai kebawah meja kerja Dodi, “Keluar kamu, laba-laba jelek!” teriaknya kesal.

“Bapak ini Barbar! Jahat!” teriak Dodi marah.

Dodi segera mengambil sapu, “Udah pak! Jangan di cari laba-laba itu, pak!”

Pak Kumis Licin menoleh dan melihat Dodi memegang sapu dan siap memukul kepalanya, “Astaga, Anak Muda! Apa yang hendak kamu lakukan dengan sapu itu?” tanyanya heran.

Dodi mengayunkan sapunya keatas. “Pertemuan kita  selesai sampai disini. Silahkan bapak keluar atau saya akan memukul kepala bapak dengan sapu ini!” geram Dodi sepeti kesetan.

Pak Kumis Licin cepat-cepat mengambil tasnya lalu keluar ruangan dengan setengah berlari. Disusul oleh Dodi masih mengejar dengan sapunya.

“Astaga! Ada apa ini?” tanya bu Taris terheran-heran melihat atasanya mengejat si raja minyak dengan sapu seperti anak kecil saja.

“Bapak itu mencoba membunuh laba-laba!” jawab Dodi masih emosi.

Nina yang berada diruangan itu langsung berdiri, “Apa? Bapak itu mencoba membunuh apa?” teriaknya hampir engga percaya. Tanpa ba-bi-bu, diraihnya sapu Dodi dan mengejar pak Kumis Licin secepat mungkin, membuat lelaki gendut itu ketakutan.

“Aneh! Tiga tahun anak itu menunggu untuk bisa membeli ladang minyak itu! Sekarang dia malah membuang  kesempatan   itu   hanya   karena   seekor  laba-laba!” ujar bu Taris engga abis pikir.

“Aku kuatir anak-anak itu telah kehilangan akal sehat mereka, bu Taris.” Gumam seorang pegawai lain sambil memperhatikan betapa ketakutannya pak Kumis Licin di kejar oleh Dodi n Nina yang sambil berteriak-teriak dan mengayun-ayunkan sapu ke udara.

“Mosnter! Penjahat! Pembantai!” teriak Dodi n Nina bersamaan.



- Selesai -


#OneDayOnePost
#DayEleven
#BayarHutang

Labirin Laba-Laba -3

TIGA


Apalagi setelah bicara, laba-laba tadi melepas tali yang mengikat mereka. Lalu tampaklah mulut mereka tertarik kesamping kiri n kanan. Laba-laba itu kayanya berusaha tersenyum pada mereka.

Nina menggosok-gosok lengannya, “Bu..bukankah ka…kalian akan membungkus kami dengan jaring kalian dan..dan memangksa kami?”

Laba-laba yang ditanya Nina menggeleng, “Enggak. Aku jujur saja ya. Aku enggak suka makan manusia. Aku lebih suka makan lalat segar!”

Nina menelan ludah gembira. Dodi juga tampak lega bukan kepalang.

“Omong-omong, senang berkenalan dengan kalian. Belum pernah sejarahnya lala-laba bertemu dengan manusia mini seperti kalian. Oh ya, namaku Herion. Tapi panggil saja aku si Bulu.”

“Dan aku si Jangkung!” terdengar suara laba-laba yang satunya.

Tubuhnya emang lebih jangkung di banding temannya si Bulu.

“Ha…halo. Aku Nina.”

“Aku Dodi.” Ucap cowo’ itu walo masih dengan perasaan engga percaya kalo saat ini mereka sedang bicara bengan hewan.

“Biasanya, species kalian berukuran amat sangat besar. Jadi, Pasti telah terjadi sesuatu sehingga kalian menjadi menciut seperti ini. Benar, ‘kan dugaanku?”

“Iya. Bener sekali.” Jawab Dodi cepat, “Ta…tapi ini mengherankan. Berarti si tua Terpin bener. Laba-laba emang hewan yang pintar.”

“Apa?” tanya si Jangkung denga suara tinggi, “Kamu meragukan hal itu ya? Menghina sekali!”

“Maaf,   dia   ini   emang   kurang   peka  terhadap  kaum  hewan. ” Nina  menyikut  perut  Dodi. “Lu pengen keluar dari tempat ini dengan selamat ato engga sih Dod?” bisiknya melotot.

“Dengar ya Dod…” kata si Jangkung sedikit tersinggung, “Menurutmu, memangnya bagaimana cara kami membuat rumah? Itu Adikarya berdasarkan Geometri!”

“Iya. Bertahun-tahun kami mempelajari hal itu.” Tambah si Bulu agak sedikit bangga.

“Kami jenius dalam persoalan matematika. Tapi kami hanya dianggap binatang biasa!” lanjut si Jangkung lagi.

Si Bulu mengangguk, “Sebenarnya kami sangat berguna bagi manusia. Bayangkan nyamuk dan lalat yang kami tangkap untuk melindungi kalian!”

“Hm…soal ini kalian bener juga.” Ujar Dodi mangut-mangut. Neh cowo’ mulai ngerti mengapa si tua Terpin melakukan penelitian tentang laba-laba ampe kepalanya botak! “Kalo begitu, kalian pasti bisa ngeluarin kami dari tempat ini, ‘kan? Kalian toh bisa merambat di dinding..”

“Memang, “si Bulu mengangguk, “Biasanya laba-laba bisa merambat naik turun di dinding. Tapi bahan dinding ini dilapisi sesuatu sehingga cakar kami enggak bisa mencengkramnya.”

“Sepertinya tempat ini dibuat untuk memenjara kami.” Sambung si Jangkung cepat.

“Benar. Kalian sengaja dimasukkan di labirin ini untuk menguji kecerdasan kalian.” Ujar Dodi menggaruk-garuk ujung dagunya.

“Labirin?” tanya si Bulu mengernyitkan keningnya yang emang udah mengkerut.

“Jadi aku benar, ‘kan Bulu. Ini semacam tes IQ!” seruh si Jangkung.

“Tes IQ dengan labirin?” si Bulu tertawa, “Ini bukan masalah, sobat! Semula kita berpikir ini akan lebih rumit,’kan?”

“Apa maksudmu, Bulu? Mungkin perlu beberapa hari ato

Bisa jadi berminggu-minggu untuk bisa keluar dari tempat ini.” Teriak Nina melengking, membuat ketiga mahkluk lain yang ada ditempat itu menoleh.

“Kenapa wanita selalu bicara dengan berteriak-teriak?” gerutu si Jangkung menggeleng-gelengkan kepala.

“Ini masalah hormon, Jangkung,” hibur si Bulu membuat Dodi tersenyum simpul, “Sebenarnya ada resep rahasia untuk keluar dari labirin ini.”

“Oh ya?” mata Nina membesar.

Si Bulu mengangguk, “Pinjam pensil, biar kugambar untukmu!” katanya tenang. Lalu dikeluarkannya sebuah kacamata dari dalam bulu dadanya yang tebal dan mengenakannya.

“Woooww!!” Dodi terkekeh sambil merogoh pensil dari saku kemejanya, “Kacamatamu sungguh canggih, Bulu!”

“Terma kasih,Dod.” Jawab Bulu kalem, “Si Jangkung malah punya jam tangan yang spektakuler.”

“Masa syih?”

Kali ini si Jangkung tampak tersenyum malu, “Biasa aja lagi. Paling jam itu bisa ngomong ‘waktunya makan siang’ ato ‘di sebelah kiri dinding ada nyamuk segar’.”

“Ya ampun. Itu keren abiss!!” puji Nina takjub. Sementara itu dia melihat si Bulu dengan lincahnya menggambar kota-kotak berlorong yang benar-benar menyerupai gambar labirin tempat mereka terjebak saat ini.

“Kalau kalian terus mengikuti salah satu dinding, entah dinding sebelah kiri atau kanan, lambam laun kamu akan menemukan jalan keluar.” Jelas si Bulu mengakhiri lukisannya di dinding.

“Wah! Kalian emang bener-bener pintar! Ayo kita keluar dari tempat ini.” Ucap Dodi engga mau mebuang waktu lagi.

Si Bulu dan si Jangkung saling berpandangan, “Mereka ingin menguji kecerdasan kita.” Kata si Bulu berbisik.

Lalu mereka sama-sama tertawa, “Hahaha…lucu sekali ya?”

Setelah lama berjalan, akhirnya mereka benar-benar menemukan sebuah pintu menuju dunia luar seperti yang telah dikatakan si Bulu, dunia yang maha luas dan pasti lebih banyak menyimpan misteri untuk makhluk berukuran mini.

“Nah, kita berhasil keluar!” seru si Bulu gembira.

Dodi melompat kegirangan, “Horee…akhirnya kita selamat!”

Nina bertepuk gembira, namun mendadak dia kembali resah,“Jangan terlalu senang begitu, Dod. Kita masih punya satu masalah lagi. Yaitu kita harus kembali keukuran normal atau semua hewan tertarik untuk bekenalan dengan kita.”

“Astaga Nin…nikmati dululah keberhasilan ini. Ntar juga caranya akan ketemu dengan sendirinya.” Ujar Dodi santai.

“Hm, sebeleum berpisah..” terdengar suara si Bulu mengusik pertikaian dua manusia mini itu, “Aku ingin mengajukan pertanyaan yang selalu menggangguku, tentang species kalian.”

“Oh ya, apa itu?” tanya Dodi cepat.

“Bagaimana cara kalian melihat sesuatu hanya dengan dua mata? Bagaimana cara kalian melihat benda yang ada di samping, atau di atas?”

Dodi tertawa, “Gampang. Kami menoleh kekanan-kiri seperti ini,” tuh cowo’ mempraktekkan apa yang dikatakannya, “Atau menengadah begini untuk melihat ke atas.”

“Hm…menarik sekali.” Gumam si Bulu.

“Sungguh enggak praktis dan tampak aneh sekali.” Komentar si Jangkung.

“Di dunia ini memang banyak hal-hal aneh.” Ujar si Bulu lagi,  “Jadi … selamat  tinggal, kawan.”  Katanya  mengangkat sebuah kakinya ke atas seolah ingin melambaikan tangan kepada Dodi dan Nina.

“Selamat tinggal Bulu. Selamat tinggal Jangkung. Gua pasti akan merindukan kalian.” Ucap Nina mulai merasa sedih.

“Sampai bertemu lagi, kawan!” teriak Dodi begitu kedua hewan tadi langsung melesat cepat dengan menggunakan jaring mereka menuju entah kemana.

Nina menghela nafas, “Lu Cuma basa-basi, ‘kan?”

“Jadi gw arus ngomong apa? Semoga kita engga ketemu lagi ampe selamanya,kawan…gitu?”

“Maksud gua, arusnya elu ngucapin sesuatu sungguh-sungguh. Lu engga sadar kalo mereka itu udah baik  banget ama kita? Untunglah mereka pintar n terdidik. Jadi mereka engga buas n menyantap kita bulat-bulat.” Omel Nina mulai ceriwis lagi. Dodi engga perduli karena neh cewe’ emang sifatnya begitu. “Kira-kira apa semua hewan seramah mereka ya?”

Baru aja Nina mempertanyakan pertanyaan yang arusnya engga ditanyakannya, mendadak dari balik labirin mereka di hadang oleh seekor laba-laba yang lebih bulunya lebih tebal dari si Bulu n lebih menjulang dari si Jangkung. Yang berbeda adalah laba-laba ini berwarna hitam, bertampang sangar n ada beberapa codet di wajahnya. Pasti itu tanda-tanda dari perkelahian yang sering dilakukannya. Mungkin dia inilah premannya!

“Grrrr!! Aku ingat kamu! Meski ukuranmu lebih kecil dari pada tadi pagi!” geram si laba-laba hitam dengan suara berat dan menakutkan. Wajahnya juga seram sekali hingga Nina ketakutan n berlindung dibelakang Dodi yang juga gemetaran.

#Bersambung
#OneDayOnePost
#DayTen
#BayarHutang

Labirin Laba-Laba -2

DUA 

Dodi menggosok-gosok pantatnya yang sakit akibat terjatuh tadi. Demikian pula Nina. Mereka tampak meringis menahan sakit. Lalu perasaan cemas mulai menghinggapi otak mereka setelah mereka benar-benar sadar apa yang telah terjadi.

“Ya ampun, Dod. Apa kita benar-benar menciut?” Tanya Nina menelan ludah kuatirnya sambil melihat dinding kayu yang mengelilingi mereka.

“N yang terparah adalah kita menciut tepat di dalam lorong labirin si tua Terpin yang engga berguna ini.” Gerutu Dodi kesal.

“Kalo ajah gua engga menyandar di pilar itu…”

“Eh, udalah. Ngapain disesalin. Engga membuat kita kembali membesar ‘kan?” ujar Dodi menghibur Nina yang tampak merasa sangat bersalah.

“Yah…walo gimanapun, gua tetep ajah ngerasa bersalah. Maaf ya Dod…”

Dodi tersenyum. Tangannya terulur mengacak-acak rambut Nina, “Iya gw maafin. Jangan nangis ya?”

“Weh, sapa yang mo nangis?”  Nina langsung bangkit sambil meraba-raba tubuhnya mencari-cari kalo-kalo ada tulangnya yang patah akibat jatuh terjerembab tadi, “Kalo aja lu engga ngumpulin pilar kuno peninggalan zaman Yunani itu, gue engga bakalan menjatuhkannya, ‘kan?”

“Hah??” Dodi meringis, lalu menggaruk-garuk kepalanya yang engga gatal, “Ternyata benar gosip yang sering gw denger di kantin kalo logika cewe’ itu emang kebalik!” ujarnya mengikuti ulah Nina.

Nina meraba-raba dinding labirin yang terbuat dari kayu yang keras dan halus, dengan tinggi sekitar tiga meter tersebut dengan putus asa.

“Lu bener, Dod. Masalah kita yang terbesar adalah kita terjebak di lorong gila tanpa jalan keluar ini.” Ujar Nina lirih.

“N kita hanya seukuran kelereng!” tambah Dodi membuat perasaan semakin mencekam.

“Dod, labirin ini, ‘kan ciptaan tenaga ahli lu.”

“Truzz?”

“Yeah, stidaknya lu pasti tau dong cara kerjanya.”

“Ini labirin, Nona. Bukan mesin. Gw rasa engga ada cara kerja apapun disini.”

“Kalo begitu, cari jalan keluarnya, Dod. Cepetan sebelum kita jadi gila.”

“Sabar,non. Pasti kita akan ngedapatin jalan keluar dari tempat ini.”

“Ohh…semoga ajah kita ketemu dengan laba-laba.” mohon Nina lemah.

Dodi menelan ludah, “Laba-laba pasti ukurannya lebih gede dari kita, Nin. Lu udah gila mau ketemuan?”

“Lu ingat,’kan…menurut pak Terpin, Laba-laba punya orientasi ruang yang canggih. Artinya mereka pasti pintar. Brarti mereka tau jalan keluar dari tempat ini.”

Dodi tertawa, “Lu mao tanya-tanya alamat sama laba-laba? Percaya amat lu ama si tua Terpin itu.”

“Dia tenaga ahli senior di laboratorium lu, ‘kan?”

“Thanks udah ngingatin gw hal itu berulang-ulang kale.”

Nina mendesah, “Lebih baik kita berpisah jalan, Dod. Salah satu dari kita arus ngedapatin jalan keluar dari tempat ini agar bisa nyalain mesin miniatur itu kembali. Gua engga mau menciut selamanya.”

“Emang sebaiknya begitu. Lagi pula engga perlu dua otak untuk ngeberesin masalah besar ini. Karena salah satu otak udah ampir meledak karena ketakutan!” ujar Dodi mulai melangkah lagi dengan gagahnya.

“Hmm…maksud lu otak siapa?” tanya Nina manyun. Mukanya tampak memerah seperti tomat

Dodi tersenyum simpul, “Ayo mulai! Gw yakin, engga ada resep rahasia untuk keluar dari labirin ini.

“Semoga ajah”

Setelah satu jam…

“Ya ampun. Kayanya kita tadi abis dari sini deh. Gua kenal tempat ini.” Keluh Nina menyapu peluh yang menetes di keningnya dengan punggung tangannya.

“Semua dinding keliatan sama, Nin. Ayo, kearah mana sekarang? Kiri ato kanan?” tanya Dodi mencoba sabar.

Tapi tampaknya mereka hanya berputar-putar di tempat yang sama, atau tempat yang tampak sama, berupa ruangan berdinding dengan pintu keluar menuju ruangan berdinding lainnya. Berkelok-kelok seperti lorong atau gang yang engga ada habis-habisnya.

“Harus ku akui, aku sedikit bingung sudah berada dimana…”

“Apa lu bilang Nin?” tanya Dodi terkejut.

“Gua engga bilang apapun.” Jawab Nina cepat.

Dodi menangkap tangan Nina, “Stt….coba denger. Ada suara…”

“Itu suara perut gua yang mulai dangdutan, tau!”

Dodi menggeleng. Sikapnya tampak serius, “Dengerin deh…” katanya. Nina jadi ikutan memasang telinga lebih seksama.

“Hanya dinding dan dinding ada dimana-mana.” terdengar suara aneh dari balik dinding.

“Denger, ‘kan?” bisik Dodi menelan ludah, “Brarti kita…kita engga sendirian.”

Nina menyeringai, “Brarti kita selamat!”

“Selamat apaan? Lu pikir yang menciut satu sekolahan? Itu pasti bukan manusia. Mungkin alien.”

“Alien?”

“Ato hewan…”

Sekarang Nina malah tertawa, “Maksud lu, sejak kita menciut, mendadak hewan bisa bicara?”

“Semua hewan bisa bicara, ‘kan?”

“N hewan peliharaan lu itu bisa bicara bahasa manusia?” tanya Nina gembira. “Ini pasti sebuah keajaiban. Ayo, mungkin mereka bisa  menolong kita keluar dari kerajaan dinding ini. Cepetan, Dod. Suaranya berasal dari sebelah sini.”

“Nin, tunggu! Gw engga begitu yakin soal ini…”

Tapi Nina engga perduli. Dia berlari kebalik dinding sebelah kanan dengan harapan bisa selamat dari jebakan labirin yang udah memusingkan kepalanya.

Lalu tiba-tiba…dari balik dinding….

Betapa kagetnya Dodi n Nina begitu melihat apa yang menyambut mereka dari balik dinding tersebut.

“Uuuaaahhhhhhhhhhh……la…laba-labaaaaaaa…” teriak Nina jatuh tersungkur ke lantai sakin takutnya.

“Dan…dan sebesar kudaaa….” Teriak Dodi ikut jatuh tersungkur disebelah Nina.

Dua ekor laba-laba sebesar kuda, berbulu tebal, berkaki delapan, dengan dua bola mata besar berwarna hitam n enam bola mata kecil-kecil dibagian atasnya, dan mulut yang dilengkapi taring sebesar golok, tampak saling memandang.

“Pak…pak…Terpin pas…pasti lupa telah meninggalkan serangga percobaanya disini…” ucap Nina gemetar ketakutan. Dia pernah melihat laba-laba sebesar kecoak, sedang merayap di dinding kamarnya. N itu benar-benar saat yang menakutkan. Lha ini, bener-bener sebesar kuda. Dan dua ekor pula…Sungguh menyeramkan…

“Ingatkan gw untuk memecatnya kalo kita selamat. Sekarang…ayo kita lariiii!!!!!!!!” teriak Dodi menangkap
tangan Nina n menariknya untuk mengeluarkan jurus langkah seribu.

Namun mendadak sebuah tali besar melingkar melayang-layang di atas kepala mereka seperti lasso para koboy yang hendak menangkap bison liar.

“Ya ampun..!” teriak Nina. Sedetik kemudian tali tersebut sudah menjerat tubuh mereka rapat-rapat hingga engga bisa bergerak.

“Celaka, Nin. Kayanya kita engga akan selamat!” ujar Dodi dengan suara bergetar. Keringat sebesar jagung menetes-netes dari jidatnya.

“Lu bener,Dod. Ternyata ketemuan dengan laba-laba bukan ide yang keren. Kita pasti berakhir sebagai makan malam mereka! Mungkin sekaranglah saatnya gua mengatakan kalo gua senang berkenalan dengan lu, Dod! Walo elu sebenarnya cowo’ aneh n setengah gila!”

Dodi menelan ludah, “Gw juga senang berkenalan dengan lu, Nin. Walo lu cewe’ yang ceriwis buanget. Oh…astaga! Siapa yang kelak akan mewarisi semua hartaku…”

“Hei..hei..!! Cukup bergosipnya. Ada yang mesti kuluruskan disini. Kami bukan serangga. Kami laba-laba! Tubuh serangga terdiri  atas tiga bagian dan punya enam kaki. Laba-laba punya dua bagian tubuh dan delapan kaki.” Terdengar seekor laba-laba berbicara dengan jelas dan lancar sekali, “Mengapa tidak ada yang ingat semua itu?”

Dodi n Nina tercengang hebat menyaksikan seekor laba-laba bener-bener bisa bicara bahasa manusia. Bahkan dengan kosa kata yang baik n sopan. Sampe-sampe mereka engga sadar kalo mulut mereka menganga lebar seperti jendela. 

#Bersambung
#OneDayOnePost
#DayNine
#BayarHutang