CONAN, Act 8: The Rest

Conan kembali dari gerbong belakang setelah mengganti pakaian dengan yang diberikan oleh Kaito. Dia tidak tahu bagaimana kakaknya itu bisa membawa baju padahal sejak tadi seperti tidak bawa apa-apa. Kecuali senjatanya.

Dia berjalan melewati tempat duduk Ai. Gadis itu sedang menatap harddisk yang diambil dari markas Organisasi Hitam.

"Ada masalah dengan itu?" tanya Conan yang menyadarkan Ai dari lamunannya.

Ai menatap Conan sebentar, lalu kembali menatap harddisk-nya. "Ya," jawabnya. "Rasanya saat mengambil harddisk ini, terlalu mudah. Bisa kuambil begitu saja. Padahal kalau menyangkut informasi, Organisasi tidak pernah berbuat lengah seberapa pun bahayanya kondisi di markas. Mereka tidak mungkin membiarkan informasi penting yang mereka miliki bocor keluar sedikit pun."

"Maksudmu, kau ragu kalau harddisk itu tidak berisi informasi yang kita cari?"

"Ya. Aku sudah lama berada di bagian internal bersama kakakku. Jadi, aku lebih mengenal seperti apa sifat orang-orang inti Organisasi. Aku yakin mereka tidak akan pernah meninggalkan informasi penting seperti ini."

Conan bergerak duduk di sebelah Ai. "Kalau begitu, itu artinya perjuangan kita sia-sia saja saat di markas tadi. Padahal aku sampai dihajar babak belur oleh monster aneh itu."

Ai langsung menahan tawanya setelah mendengarnya.

"Apanya yang lucu?" Conan merasa tersinggung.

"Lucu saja," jawab Ai. "Itu artinya kau saat itu memang sedang apes."

Conan semakin menatap kesal ke arah gadis pirang itu.

"Wuaah... Kalian terlihat mesra, ya." Kaito yang duduk di kursi depan memasang wajah jahil sambil senyum-senyum melihat Conan dan Ai. "Padahal masih kecil, tapi sudah mesra, ya..."

Suara tembakan langsung menggema. Shinichi dan Ran sampai kaget sekali mendengarnya. Kaito yang masih menghadap ke belakang, berwajah pucat karena peluru dari tembakan barusan melesat di samping wajahnya dan terus sampai melubangi dinding kereta di belakangnya. Dan tembakan tersebut berasal dari Conan yang berwajah semakin kusut saja.

"Itu sengaja kumelesetkan," kata Conan, menyimpan kembali pistolnya. "Berani membuatku bad mood lagi, aku akan benar-benar membidikkan ke kepalamu, Kak."

Kaito kemudian berbalik dengan air mata bercucuran. "Adikku yang dulu imut dan manis, kini menjadi sangat dingin dan galak..."

Ai menatap heran ke arah Conan. "Hei, tadi itu bahaya sekali," tegurnya.

"Peduli amat," ucap Conan cuek.

"Tapi, ngomong-ngomong­, kau sudah menganggap Kaito benar-benar kakakmu?" tanya Ai. "Kau tadi 'kan bilang kalau tidak begitu ingat masa kecilmu."

"Setidaknya aku tahu siapa yang jujur dan siapa yang bohong. Aku 'kan sudah sering bertemu orang-orang munafik, pembohong, pembual, dan sekutunya saat menjadi petarung dulu. Jadi, aku bisa membedakannya biarpun dia bertopeng sekalipun."

Ai menatap ke depan. "Berarti Kaito jujur, ya. Jarang-jarang ketemu pria jujur seperti itu." Lalu, dia kembali menatap Conan. "Dan juga... bakatmu membaca orang itu hebat sekali. Aku jadi ingin mengetesnya."

Conan melirik bingung. "Hah?"

"Kalau begitu... coba tebak, apakah ucapanku ini bohong atau tidak?" tantang Ai.

"Memang ada untungnya buatku?" Conan kembali bersikap cuek.

"Tentu saja ada. Tapi, tidak sekarang karena aku tidak membawa barang yang pantas menjadi hadiah saat ini," jawab Ai.

Conan melirik sebentar. "Terserah kau saja."

"Baiklah, aku mulai." Ai memasang wajah serius. "Aku... mencintaimu."

Keheningan mendadak merebak disekitar mereka berdua. Conan mematung untuk beberapa saat. Wajahnya kemudian mulai memerah, lalu dia bergerak menjauh dengan ekspresi yang bercampur syok.

"HEEEEEH?"

Ai tertawa terbahak-bahak melihatnya sampai memegang perut. "Ya, ampun! Rekasimu benar-benar lucu sekali."

"Kau mengerjaiku, ya? Itu sama sekali tidak lucu!" bentak Conan. Dia langsung beranjak dari tempat duduknya menuju ke depan.

"Hei..."

Langkah Conan berhenti ketika mendengar panggilan Ai itu. Dia menoleh dengan wajah yang masih kesal dan masih agak merona. "Apa?" tanyanya ketus.

"Kau belum mengatakan apakah aku jujur atau bohong. Jadi, apa jawabanmu?"

Conan memperhatikan sebentar wajah Ai, lalu berbalik. "Bohong."

"Oh..." Suara Ai terdengar seperti memang sedang main-main.

Conan kembali melangkah menuju kursi di depan.

"Hei, tunggu dulu." Ai memanggil lagi.

Conan langsung berhenti dan menoleh dengan kekesalan maksimal akibat ulah Ai barusan. "Apa lagi?"

"Aku 'kan belum bilang jawabanmu benar atau salah."

Conan memalingkan wajahnya dengan sangat ketus. "Aku tidak peduli. 'Kan sudah kubilang tidak ada untungnya." Dia kembali melangkah.

"Baiklah, kalau kau memang tidak mau tahu," sahut Ai.

Conan duduk di kursi paling depan, yang berada di depan tempat duduk Kaito, dengan sangat kesal. Kaito yang kelihatannya masih tidak peduli dengan kondisi mood Conan, memuculkan kepalanya dari balik sandaran kursi tempat duduk Conan.

"Conan, kurasa Ai tidak bohong dengan ucapannya itu. Aku benar-benar yakin dia itu jujur seratus persen...," kata Kaito, sok serius.

"Berhenti berbicara aneh-aneh seperti itu," desis Conan, penuh ancaman.

Tapi, Kaito merespon dengan santai. "Ah, jangan begitu. Aku yakin kau juga punya perasaan yang sama dengannya."

Moncong pistol tahu-tahu sudah berada di dahinya. Bunyi tembakan kembali terdengar. Lubang peluru terlihat berada di dinding kereta bagian belakang. Biarpun melewati Ai, gadis itu tampak tenang-tenang saja membereskan barang-barang bawaannya. Sementara Kaito, tertunduk dengan wajah pucat untuk keduakalinya.

"Ha-hampir... saja...," gumamnya.

Dari tempat duduk depan, Kaito juga merasakan ada aura mengerikan yang membara. Aura kemarahan Conan. Kaito jadi merinding.

"Bukannya sudah kubilang untuk tidak membuatku bad mood lagi, Kakak?" desis bocah kacamata itu dengan mata berkilat-kilat marah.

"Iya, iya, aku minta maaf. Aku tidak akan mengganggumu lagi," ucap Kaito. Jujur saja, menurutnya Conan saat ini lebih mengerikan dibandingkan para monster yang dia hadapi tadi. Dia benar-benar sulit diajak bercanda.

~Black Virus~

Kereta akhirnya tiba di stasiun terakhir. Namun, di sana juga tampak sepi seperti kota mati dan juga berantakan. Tidak beda jauh dengan Kota Beika yang sekarang.

"Apa penyebarannya sudah sampai di sini?" tanya Shinichi.

"Bukan sudah sampai, tapi di sini juga terjadi," kata Kaito. "Obat yang membuat para kanibal bermunculan juga ada di sini. Di sini merupakan salah satu daerah yang dikirimi obat itu."

"Kakak tahu tempat mana saja yang dikirim?" tanya Conan tidak percaya.

"Ya, begitulah," jawab Kaito. "Tapi, tidak semua tempat kuketahui. Kalau di dekat Beika, aku cukup tahu. Mendapat informasi dari organisasi itu sangatlah sulit. Hampir mustahil malah."

"Itu artinya Kakak juga tahu mengenai pertarungan ilegalnya?" tanya Conan lagi.

"Ya, tahu. Tapi, aku tidak pernah sampai ke arenanya sehingga tidak tahu seperti apa pertarungannya ataupun siapa saja pesertanya. Salah satu anggota Organisasi selalu saja mengikutiku ketika aku datang. Sepertinya dia sudah sadar."

"Orangnya seperti apa?" tanya Conan. Dia memang agak penasaran juga.

Kaito mencoba mengingat-ingat­. "Tubuhnya jangkung, bermata tajam dan dingin, dan yang paling mencolok adalah rambutnya itu. Berwarna keperakan dan panjang."

Conan tersentak. Itu adalah ciri-ciri pria yang sempat berhasil menahannya saat kabur dulu. Memang di antara anggota Organisasi, cuma pria itu yang paling mengerikan. Sama sekali tidak berperasaan. Conan bahkan masih terbayang rasa cengkeraman tangannya itu. Terbayang sangat jelas.

"Aku tidak menyangka kalau di Beika bisa ada tempat pertarungan ilegal," kata Shinichi.

"Itu karena kau menganggap gosip mengenai tempat itu cuma kabar angin," ledek Kaito. "Kau sama sekali tidak terpikir kalau ada yang disembunyikan di balik gosip yang tersebar. Lain kali, cobalah untuk selidiki saja. Tidak ada salahnya."

Shinichi memasang wajah kesal ke arah Kaito. "Baiklah, aku memang salah tidak kepikiran begitu," ucapnya walaupun dengan nada ketus. "Ngomong-ngomon­g senjata yang kau berikan di kereta tadi, kenapa tidak diberikan peluru cadangannya juga?"

"Oh, kalau itu... Memang tidak perlu. Pelurunya itu memang istimewa," jelas Kaito.

"Istimewa? Memang terbuat dari apa hingga tidak perlu peluru cadangan?" tanya Shinichi penasaran. Conan yang mendengarnya juga menanti jawaban dari pertanyaan itu sebab dia sendiri tidak bisa mengerti bagaimana pistol yang diberikan Kaito bisa tidak habis pelurunya.

"Kalau itu... Rahasia perusahaan," jawab Kaito dengan Pe-De tingkat tinggi.

Semua terbengong mendengarnya.

"Hei, jangan main-main!" bentak Shinichi yang sudah kehabisan kesabarannya melihat tingkah tidak seriusnya Kaito.

"Aku serius, lho," ucap Kaito seyakin mungkin walaupun tetap tidak terlihat yakin di mata yang lain. "Karena istimewa dan juga langka, aku tidak bisa memberitahukan itu apa. Nanti banyak saingannya. Belum lagi, bahannya itu. Pasti bakal langsung habis bila banyak yang pakai."

Shinichi memutuskan menyerah saja mengajukan pertanyaan seputar senjata pemberian Kaito itu. Pasti tidak akan dijawab. Conan juga berpikiran sama. Setidaknya ada untungnya tidak memikirkan peluru cadangannya. Ran juga sebenarnya diberikan, tapi kelihatannya tidak akan sering digunakan karena Ran itu lebih terbiasa menggunakan tangan kosong ketimbang senjata. Apalagi senjata jarak jauh.

Conan tiba-tiba berdesis agar semuanya diam. Samar-samar terdengar suara geraman dari banyak arah.

"Dikepung, ya?" Kaito malah terlihat santai menanggapinya. Dia pun mengeluarkan pistolnya yang bentuknya unik sendiri. Moncong pistolnya pun tidak seperti moncong pistol pada umumnya, melainkan berbentuk kotak dengan celah garis panjang seukurannya lebar sebuah kartu.

Para makhluk kanibal mulai bermunculan dari balik bayang-bayang bangunan dan lari menyerbu Conan dan kawan-kawan. Conan maju duluan sambil mulai menembak dengan bidikan kepala semua. Banyak dari para makhluk kanibal berjatuhan tak bergerak.

Kaito juga tidak mau kalah. Sebelum dia mulai menembak, dia mengeluarkan terlebih dahulu selembar kain yang cukup lebar berwarna berbeda, merah dan hitam, pada kedua sisinya dari belakang bajunya dan dikebaskan. Burung-burung merpati putih berterbangan menghalangi pandangan para makhluk kanibal dan membuat gerakan mereka melambat. Kesempatan itu digunakan Kaito untuk menembak di mana pelurunya memang merupakan kartu. Tidak heran kalau bentuk pistolnya begitu.

Ai juga menembak dengan gesit. Biarpun tidak semuanya head shot seperti Conan. Sementara Shinichi dan Ran menembak semampu mereka karena mereka tidak biasa menembak. Kadang Ran menggunakan keahliannya dalam karate untuk menghajar para makhluk kanibal yang sudah terlanjur dekat. Biarpun memang sempat takut, semua serangan tangan kosong Ran tetap saja menghasilkan damage besar yang bisa menghempaskan si makhluk kanibal cukup jauh. Kelihatannya dia sudah tidak begitu takut sekarang.

Mereka semua bertempur hingga keluar dari stasiun. Akan tetapi, di luar sana yang menunggu sudah sangat banyak. Semua makhluk kanibal itu menatap lapar ke arah para manusia yang berada di hadapan mereka.

"Rintangannya semakin parah saja." Kaito masih tampak santai. Tidak ada kepanikan yang terlihat di wajahnya.

"Kenapa di saat kepungannya lebih parah, kau malah tetap terlihat santai begitu!" bentak Shinichi yang tidak habis pikir kenapa pemuda yang mirip dengannya itu masih bisa terlihat santai seolah yang dihadapannya itu bukanlah rintangan yang berarti.

Kaito melirik sambil menyunggingkan senyum. "Karena aku suka tantangan." Entah sejak kapan, sebuah peluncur roket sudah berada di pundaknya. Siap ditembakkan. Yang lain jadi melotot melihat kemunculan peluncur roket itu.

Roket ditembakkan dan meluncur di tengah kerumunan para makhluk kanibal. Ledakan besar terjadi menghancurkan sekaligus menghempaskan para makhluk kanibal di sekitar area ledakan.

"Jalan sudah terbuka," lapor Kaito sambil nyengir lebar dan mengeluarkan suara kekehan penuh kemenangan. Alat peluncur roketnya masih berada di pundaknya.

Jitakan kompak dari Conan dan Shinichi menghantam telak kepala Kaito sampai pemuda itu terbungkuk dalam, hampir jatuh. Suara jitakkannya juga terdengar cukup nyaring.

"Jangan main-main!" bentak keduanya.

Ran dan Ai yang berada di belakang para pemuda itu, hanya bisa menghela nafas.

"Dasar laki-laki," gumam Ai.

Perjuangan untuk kabur dari kepungan para monster kembali dilanjutkan seiring semakin tingginya matahari. Tujuan mereka...

Daerah perbatasan.

To be continued...

Reactions

0 Comments: