CONAN, Act 6: The Stadium


Conan, Ai, dan Profesor Agasa berjalan keluar dari lokasi markas Organisasi Hitam yang sudah terbakar akibat rudal yang diluncurkan oleh orang yang tak dikenal tadi. Mereka menaiki mobil dan pergi dari tempat itu.


Tak ada yang bicara. Awan tebal sudah tidak lagi terlihat. Hari pun sudah mulai sore. Saat melewati kota, tak ada lagi yang terlihat berkeliaran, baik manusia ataupun makhluk kanibal. Sepi dan sunyi. Hanya kerusakan yang ditinggalkan.

"Ke mana semuanya?" tanya Profesor Agasa.

"Aku juga tidak tahu," jawab Conan.

"Kurasa semua makhluk kanibal itu telah pergi karena kehabisan mangsa," ujar Ai.

"Secepat itu?" Profesor Agasa terlihat pucat. Bagaimana tidak pucat kalau para makhluk kanibal itu bisa menghabisi sebuah kota dalam kurang dari sehari?

"Berhenti sebentar," pinta Conan.

Mobil berhenti dan Conan segera turun. Dia berjalan mendekati sebuah bekas hangus yang tidak biasa. Begitu jelas terlihat di dinding dan masih agak hangat saat disentuh. Bau terbakarnya juga agak berbeda dari senjata pembakar pada umumnya.

"Ini bekas dari senjata apa?" gumam Conan. Baru kali ini dia melihat bekas terbakar yang tidak biasa itu.

"Ternyata kau masih di sini."

Seseorang muncul di sampingnya. Conan menoleh. Dia terkejut melihat yang datang itu adalah Shinichi.

"Kau melewatkan banyak hal," kata Shinichi. "Semua orang sudah dievakuasi dan para monster itu sudah dimusnahkan semua. Mungkin, sih. Tapi, kenapa kau dan kawananmu itu masih di sini?"

"Kami baru saja menyelesaikan urusan kecil," jawab Conan agak ketus. "Ke mana orang-orang dievakuasi?"

"Di stadion sepak bola. Karena itu merupakan tempat yang luas dan cukup jauh dari sini."

"Lalu, kau sendiri sedang apa di sini?" tanya Conan. Dia merasa ada yang tidak beres dengan pemuda di hadapannya itu.

"Aku? Memeriksa kembali tempat ini. Mungkin ada petunjuk yang bisa kutemukan untuk menjawab apa yang sebenarnya telah terjadi dalam sehari ini," jawab Shinichi.

"Sendirian? Berani sekali," puji Conan yang sebenarnya ingin menyindir. "Kau juga sudah pergi ke daerah sebelah utara?"

"Ya... begitulah...," jawab Shinichi dengan entengnya.

"Ternyata..." Conan menghentakkan kakinya, membuat sebuah tongkat besi kecil yang ada di dekat kakinya terpental ke atas. Dia menangkapnya dan langsung menodongkannya di leher Shinichi... palsu. "Shinichi asli tidak akan ke sana tanpa alasan. Selama ini dia hanya tahu kalau tempat itu berbahaya sebagai gosip untuk mencari perhatian."

Shinichi palsu terdiam di tempat.

"Kau... yang menembak rudal itu, 'kan?"

Shinichi palsu tersenyum tipis. "Ya, kau benar sekali, bocah," jawabnya, menyerah. "Aku yakin kau bisa kabur dari tempat itu sehingga aku tidak akan ragu menembak."

Conan memicingkan matanya karena sudah sangat marah. Dia langsung menyerang Shinichi palsu dengan tongkat besinya. Tapi, Shinichi palsu itu dapat menghindarinya dengan mudah dengan gaya seperti orang berakrobat. Shinichi palsu kemudian melompat ke atas tiang lampu dan berdiri dengan sangat seimbang.

"Kau memang sudah sangat kuat, bocah. Tapi, masih belum terkendali sepenuhnya," kata Shinichi palsu. "Lain kali kau harus lebih mengendalikan diri, ya. Sampai itu bisa kau lakukan, aku pergi dulu."

Asap muncul di bawah kaki Shinichi palsu dan menghilang tanpa jejak.

"Cih! Sial!" umpat Conan sambil membanting tongkat besinya ke aspal jalan. Dia berjalan dan masuk kembali ke mobil.

"Dia yang menembak itu?" tanya Ai.

"Ya," jawab Conan dengan nada kesal. "Sekarang kita ke stadion sepak bola. Katanya di sana orang-orang diungsikan."

"Kau percaya padanya?" tanya Profesor Agasa.

"Ya, aku bisa membedakan mana pembohong dan bukan. Aku sudah sering lihat wajah-wajah seperti itu di arena."

Mobil kembali melaju menuju stadion sepak bola yang seperti dikatakan Shinichi palsu, cukup jauh letaknya. Sepanjang perjalanan, mereka masih tidak lihat seorang pun di jalan. Bahkan hewan liar pun tidak ada. Semuanya sudah kosong. Tak ada lagi yang menghuni daerah tersebut. Noda-noda hitam terbakar juga terlihat hampir di sepanjang jalan juga. Conan bertanya-tanya senjata macam apa yang digunakan.

~Black Virus~

Pagar lapangan sepak bola terkunci dengan beberapa tentara berjaga di pintu. Ternyata memang benar stadion sepak bola dijadikan tempat pengungsian. Conan, Ai, dan Profesor Agasa harus melewati alat pendeteksi virus. Setelah dianggap bersih, mereka baru boleh dipersilahkan lewat. Kelihatannya pihak keamanan sudah tahu kalau tergigit oleh 'mereka', akan berubah juga menjadi 'mereka' layaknya menularkan virus.

Mobil diparkirkan di antara puluhan mobil lain, lalu mereka bertiga turun dari mobil dan masuk ke dalam stadion. Tempat yang seharusnya dapat menampung puluhan ribu penonton itu, hanya dipenuhi tak lebih dari setengahnya. Sebagian kecil berada di tengah lapangan untuk mendapat perawatan medis.

"Sedikit sekali...," gumam Profesor Agasa.

"Kurasa tidak semuanya diungsikan ke sini," ujar Ai. "Itu 'kan mustahil. Pasti ada tempat pengungsian lain. Tempat ini hanya untuk yang selamat di sekitar tempat ini."

"Yah, kurasa kau benar. Daerah di sekitar sini tidak sepadat ibu kota," sahut Conan. "Tidak heran yang mengungsi di sini juga sedikit, apalagi penyerang juga tidaklah sedikit."

"Conan!" Suara panggilan yang sudah cukup dikenal Conan terdengar. Dia berbalik dan melihat teman-teman sekelasnya. Ayumi, gadis yang cukup perhatian. Genta, pemuda gendut yang doyan sekali makan. Dan Mitsuhiko, pemuda yang terobsesi menjadi detektif.

"Conan, apa yang terjadi padamu?" tanya Ayumi cemas melihat penampilan Conan yang begitu berantakan, kotor, dan terdapat lebam di beberapa bagian tubuhnya. Selain itu, kacamatanya juga tidak ada. "Kau berkelahi?"

"Ya, sedikit," jawab Conan asal.

"Kau berkelahi dengan monster itu?" tanya Genta.

"Kalau ya?" tanya Conan.

"Kau gila," jawab Genta. "Kau bisa terbunuh."

"Tenang saja. Aku tidak berkelahi dengan mereka," ucap Conan bohong. "Aku berkelahi dengan orang lain." Yang dia maksud adalah Shinichi palsu walaupun bukan pemuda itu yang membuatnya babak belur.

Mitsuhiko melihat Ai yang berdiri di belakang Conan. Ai cuma menatap orang-orang yang berada di tengah lapangan tanpa mempedulikan tatapan Mitsuhiko yang sedang tertarik padanya.

"Yang dibelakangmu itu siapa, Conan?" tanya Mitsuhiko tanpa melepas pandangannya dari Ai.

Conan berbalik. "Oh, dia. Dia itu cuma gadis ilmuan gila yang... GYAAA!" Dia menjerit begitu sebuah stun gun yang entah sejak kapan dibawa Ai, menempel di punggungnya.

Dalam beberapa detik Conan rubuh karena lemas setelah tersengat listrik. Tapi, dalam beberapa detik pula dia pulih dan berdiri. "Kau mau membunuhku, ya!" bentaknya pada Ai. "Ditambah lagi, dari mana kau mendapatkan alat ini?"

"Bicara yang aneh-aneh, akan kutingkatkan voltasenya. Kau juga tidak perlu tahu dari mana aku mendapatkannya,­" ujar Ai dengan nada dinginnya.

"Dasar perempuan aneh," umpat Conan.

Ai meng-klik tombol voltase pada stun gun-nya. Conan langsung memutuskan untuk menjauh saja. Dia sedang tidak berselera untuk meladeni gadis pirang itu lagi biarpun dia memang tidak akan apa-apa bila disengat 1 juta volt sekalipun.

~Black Virus~

Mitsuhiko banyak tanya tentang Ai, tapi Conan tak banyak menjawab karena dia memang baru kenal dengan Ai. Genta juga cukup banyak tanya tentang gadis pirang itu. Sedangkan Ayumi hanya menanyakan keadaan Conan yang penuh luka.

Begitu malam tiba, orang-orang semua tidur. Tapi, Conan yakin tidak semuanya dapat tidur nyenyak malam ini setelah apa yang terjadi sejak pagi tadi. Sedangkan dirinya tidak masalah tidak tidur. Dia sudah biasa hanya tidur sejam setiap harinya. Dia cuma duduk di salah satu bangku stadion sambil mengawasi sekitar. Kalau dipikir-pikir dia juga membantu berjaga dari dalam. Para makhluk kanibal itu terlalu berbahaya untuk dihadapi oleh orang yang tidak berpengalaman biarpun punya senjata canggih sekalipun.

Ngomong-ngomong­ soal senjata canggih, Conan masih belum tahu senjata apa yang digunakan untuk membasmi para makhluk kanibal tadi siang. Teman-temannya tidak ada yang tahu. Mereka hanya tahu kalau semuanya sudah dibereskan saat mereka menuju stadion.

Dia kemudian dikejutkan dengan dirasakannya seseorang yang sedang memperhatikan dari belakang. Dia menoleh dan melihat Ai yang sedang berdiri menatapnya dari tangga.

"Kukira kau sudah tidur," kata Conan.

Ai tidak berkata apa-apa. Dia hanya berjalan mendekati tempat Conan dan duduk di sebelahnya. Dia pun langsung menyandarkan kepalanya ke bahu Conan tanpa pemberitahuan sehingga Conan hampir jadi salah tingkah.

"Sebentar saja," bisik Ai. Suaranya terdengar parau.

Conan melihat sedikit ke wajah Ai yang agak tertunduk. Dia bisa melihat ada aliran air mata di pipi gadis itu. Ai menangis. Conan yakin dia teringat pada kakaknya saat ini. Conan hanya bisa mengelus punggung gadis itu dengan lembut berharap itu dapat membantu menenangkannya.

Bocah itu sama sekali tidak tahu arti kehilangan karena dia belum pernah merasakannya. Tak ada yang dia anggap sebagai keluarga. Antar para petarung pun dia tidak begitu akrab karena hampir tidak pernah saling berbicara. Dia hanya tahu, mereka punya nasib yang sama dengannya. Penjara saja, satu penjara untuk satu orang. Bagaimana dia bisa berkomunikasi dengan baik?

Ai semakin mendekat. Wajahnya dibenamkan ke dada Conan. Tangannya mencengkeram erat baju Conan. Conan hanya bisa memeluknya erat sekarang. Walaupun masih belum tahu arti kehilangan, dia tahu apa itu arti kesedihan.

~Black Virus~

Ai tertidur pada akhirnya di dalam pelukan Conan dengan mata yang sembab. Conan tidak menyangka harus bertindak seperti itu pada gadis yang hampir membuat seluruh penduduk kota menjadi makanan para kanibal dan juga yang hampir menjadikannya salah satu para makhluk menjijikkan itu.

Suara ledakan keras mendadak mengagetkannya.­ Asalnya dari luar stadion. Dia pun dapat melihat cahaya aneh yang bermunculan juga di sana.

Orang-orang terbangun dan mulai terlihat kepanikan di wajah mereka. Ai juga terbangun karena suara ledakannya memang sangat keras.

"Ada apa?" tanya Ai.

"Akan kulihat dulu," kata Conan, berlari ke arah pintu keluar stadion.

Setibanya di sana, di mana pintunya juga diterali besi, dia melihat para tentara sedang menembak para makhluk kanibal yang menerobos pagar dengan senjata yang bisa menembakkan semacam bola energi yang langsung meledak bila tersentuh. Ada bekas terbakar yang sama yang disisakan tembakan itu dengan yang dilihat di sepanjang jalan. Ledakan yang terjadi melenyapkan para makhluk kanibal yang kena.

"Senjata yang hebat," kagum Conan.

Sayangnya, yang menembak tidak menyadari kalau ada serangan dari arah lain. Dia tertangkap dan diserbu. Di antara para makhluk kanibal yang sedang mengeroyok itu, terlihat pancaran cahaya. Conan berfirasat buruk. Dia segera berlari menjauhi pintu secepat mungkin. Ledakan yang jauh lebih besar terjadi. Menghempaskan Conan jauh ke depan. Dia terbaring di lantai jalan masuk. Dia bangun sambil merintih dan langsung melotot melihat jeruji pintu rusak akibat ledakan.

"Gawat!"

Conan segera berlari kembali ke dalam stadion. Dia bertemu Ai di mulut lorong.

"Apa yang terjadi?" tanyanya.

"Mereka berhasil masuk. Kita harus pergi dengan jalan yang lain," jawab Conan. "Ayo!" Dia menarik tangan Ai untuk pergi.

Sebelum itu mereka mencari dulu Profesor Agasa di antara orang-orang yang sudah panik luar biasa. Mereka berebutan keluar dari jalan yang berlawanan dengan tempat ledakan. Para petugas segera mengatur agar tidak begitu panik. Tapi, pastilah tidak begitu berhasil. Conan bisa melihat Profesor Agasa yang terdorong-doron­g di tengah kerumunan orang, mencoba memanggil Conan dan Ai yang terlihat olehnya.

"Kita tidak mungkin bisa mengeluarkan Profesor dari sana," kata Ai.

Conan pun juga berpikiran sama. Dia melihat ke arah pintu keluar yang tadi terkena ledakan. Para makhluk kanibal sudah masuk. Mata mereka langsung tertuju pada kumpulan orang-orang yang masih berdesak-desakk­an di pintu keluar di seberang sana.

Seseorang yang melihat kedatangan makhluk itu langsung berteriak panik yang otomatis membuat yang lain jadi semakin panik. Keadaan jadi semakin tidak terkendali.

"Aku akan menahannya," ucap Conan yang langsung berlari maju ke tempat para makhluk kanibal berdatangan dan menghajar mereka tanpa mempedulikan panggilan Ai.

Conan melawan para monster itu dengan tangan kosong. Sebab dia sudah tidak lagi memiliki senjata. Pistolnya dia tinggalkan di markas Organisasi Hitam yang juga dalam keadaan tak berpeluru. Tapi, berkat obat sebelumnya yang diberikan Ai, dia masih bisa mengalahkan para makhluk kanibal yang terus saja berdatangan.

Di tengah pertarungan, dua buah benda terlihat melesat ke arah Conan. Dengan sigap Conan menangkap kedua benda itu yang ternyata adalah pistol. Dilihatnya ke arah datangnya pistol itu. Terlihat seseorang yang mengenakan pakaian serba putih dengan jubah dan topi panjang yang berdiri di lantai paling atas stadion. Itu si Shinichi palsu.

Apa lagi sekarang? Tiba-tiba datang membantu, batin Conan sambil kembali bertarung melawan para makhluk kanibal. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya ada di kepala orang tak jelas itu.

Conan baru sebentar saja mengalihkan padangannya dari si Shinichi palsu, tapi begitu kembali dilihat, pemuda itu sudah hilang entah ke mana.

"Astaga," umpat Conan. "Hilang lagi dia."

"Conan!" Ai tiba-tiba berseru. "Orang-orang akan segera dibawa pergi. Mobilnya akan berangkat sebentar lagi!"

"Kau pergilah! Aku akan menyusul!" sahut Conan tanpa berhenti bertarung.

"Tapi..."

"Cepat pergi! Aku tidak akan apa-apa! Aku bisa menyusul kalian! Percayalah!" seru Conan tanpa berhenti bertarung.

Ai masih terdiam di tempat dengan wajah ragu.

"Cepat pergi!" teriak Conan.

Akhirnya Ai berlari pergi meninggalkan Conan. Dengan wajah... terpaksa...

Conan menatapnya sebentar sebelum akhirnya kembali bertarung habis-habisan.

~Black Virus~

Conan terengah-engah di tengah-tengah gelimpangan tubuh-tubuh tak bernyawa. Darah di mana-mana, termasuk di pakaiannya yang sudah penuh robekan. Dia melangkah menjauhi area mayat itu. Ai dan Profesor Agasa pasti sudah jauh dari tempatnya berada sekarang. Dia ingin menyusul seperti yang ia katakan pada Ai sebelum berpisah tadi. Tapi, dia tidak tahu harus ke mana. Tidak ada alat komunikasi. Ponselnya juga tertinggal di rumah. Tepatnya di tas sekolahnya. Dia tidak mungkin kembali karena jarak yang sudah sangat jauh. Dan kelihatannya akan menjadi perjalanan yang sangat berbahaya.

Lalu, pistol yang diberikan oleh Shinichi palsu itu, Conan merasa ada yang aneh. Pelurunya tidak habis-habis, padahal sudah puluhan peluru ditembakkan. Dia mencoba mengeluarkan magazine pistol barunya itu, tapi tidak bisa. Kalau dikeluarkan paksa, mungkin itu akan merusaknya dan tak ada lagi senjata untuknya. Conan pun membiarkan saja apa isi magazine pistolnya itu. Setidaknya sekarang dia tidak perlu repot-repot mengisi peluru.

Conan berjalan terus menuju pintu keluar yang digunakan para penduduk tadi. Lorong itu gelap. Tapi, dia bisa melihat ada seseorang di sana yang tengah berdiri bersandar di dinding. Conan tercengang.

"Ai?"

Gadis pirang itu menoleh. Penampilannya tak kalah acak-acakkan dan juga terdapat beberapa cipratan darah di pakaiannya. Tangannya memegang sebuah pistol hitam. Conan segera berlari mendekatinya.

"Kau... tidak pergi?" tanya Conan tak percaya.

"Kalau aku pergi, kau tidak akan tahu ke mana mobil itu pergi," jawab Ai. "Kubiarkan Profesor saja yang pergi daripada mengalami bahaya yang terus bermunculan di sekitar kita. Ditambah lagi Profesor sudah tua."

Conan setuju saja dengan ucapan Ai itu.

"Lalu... ke mana penduduk dibawa?" tanyanya.

"Osaka," jawab Ai singkat.

"Osaka?"

"Menurut informasi yang kudengar, di sana tidak ada para makhluk itu. Jadi, para penduduk yang selamat dibawa ke sana menggunakan pesawat. Seharusnya sekarang sudah berangkat."

Sebuah pesawat berukuran sangat besar terlihat dari kejauhan. Mendekat, lalu lewat di atas stadion. Tak lama kemudian disusul pesawat lain.

"Ah, ternyata memang sudah berangkat," ucap Ai, menatap langit. Lalu, dia menatap Conan. "Kita ketinggalan," sindirnya.

"Setidaknya kita sudah tahu ke mana mereka," ucap Conan tenang. Ditatapnya pistol yang masih dipegang oleh Ai. "Darimana kau mendapatkannya?­"

"Oh, pistol ini? Dari teman bayangan kita," jawab Ai yang maksudnya adalah si Shinichi palsu. "Keren juga karena tidak perlu mengisi peluru."

Conan diam sejenak. "Punyaku juga," sahutnya.

"Lalu, kita ke mana sekarang, Komandan?" tanya Ai dengan nada menyindir.

"Apa maksud kata 'Komandan' itu?" tanya Conan dengan nada kesal.

"Kau yang memimpin di sini sekarang. Tidak ada lagi yang akan melakukannya. Atau kau mau aku yang melakukannya?"

Conan menghela nafas. "Baiklah, kita cari jalan aman menuju Osaka."

To be continued...
Reactions
This entry was posted in

0 Comments: