CONAN, Act 4: The Fighting

 Profesor Agasa memarkirkan mobilnya sesuai perkataan Conan. Mereka parkir di sebuah gudang dan menutupinya dengan kain terpal seperti barang-barang lainnya yang ada di situ untuk menyembunyikann­ya. Berjaga-jaga saja jangan sampai ada anggota Organisasi Hitam yang masih selamat ataupun makhluk kanibal menyerang karena tahu kedatangan mereka.

"Kau benar-benar yakin mau kembali masuk ke markas mereka?" tanya Ai. "Bisa saja markas mereka itu sudah menjadi sarang utama para makhluk itu. Ini sama saja bunuh diri, 'kan?"

Conan tidak mempedulikannya­ dia menyiapkan kembali senjatanya dan memeriksa juga alat peredam suara yang terpasang pada pistolnya.

"Cih, pura-pura tidak dengar," umpat Ai.

"Daripada kalian berkelahi, adakah yang bisa menjelaskan kenapa polisi tidak bisa menemukan markas Organisasi Hitam?" tanya Profesor Agasa, mengalihkan pembicaraan. "Padahal sudah sering dilakukan pencarian di area ini karena laporan orang hilang yang sering diterima."

"Nanti Profesor akan melihatnya sendiri saat kita tiba di pintu masuk markas. Lagipula Organisasi Hitam adalah organisasi besar. Mereka sudah memikirkan bagaimana mengatasi hal itu. Tidak mungkin 'kan mereka membuat markas di sini begitu saja," jelas Conan. Dia mengkokang pistolnya. "Kita jalan sekarang."

Mereka berjalan menelusuri gang-gang sempit di antara gudang-gudang tua yang tak lagi terpakai. Gudang-gudang itu sudah terlihat kumuh dan dipenuhi tumbuhan-tumbuh­an liar pada dindingnya. Tempat itu dulunya sebuah pabrik besar dengan banyak gudang, namun ditutup setelah terjadi kebaran besar yang menghanguskan beberapa gudang utama yang membuat pemiliknya bangkrut.

Perjalanan terasa begitu tegang karena mereka semakin dekat dengan asal kemunculan para makhluk kanibal. Tempat itu juga begitu sepi sampai suara angin terdengar jelas. Terlihat beberapa ekor hewan pengerat berlarian di antara pipa atau keluar masuk gudang melalui lubang-lubang kecil yang mereka buat. Untunglah hujan sudah mereda hingga menyisakan gerimis kecil saja.

"Tempat ini seram juga, ya," kata Profesor Agasa yang sejak tadi memperhatikan sekitarnya itu.

Conan tiba-tiba berhenti yang otomatis membuat yang lainnya juga berhenti. Dia bisa merasakan ada yang mengikuti mereka. Bergerak cepat dan bukan cuma satu. Dia mencoba mencari para penguntit itu. Beberapa kali dia melihat ada sosok bayangan yang lewat dengan sangat cepat di sekitarnya.

"Kelihatannya memang tidak mudah untuk bisa masuk sekarang kalau perjalanannya saja sudah seperti ini," kata Ai, dia mempersiapkan pistol miliknya dengan memasang peredam suara. Dia tidak menggunakan SMG-nya karena suara yang dihasilkan SMG sangatlah keras sehingga dia hanya menggantungnya di pundaknya. Gadis itu juga menyadari apa yang dirasakan Conan.

Dua makhluk kanibal muncul tiba-tiba dari atap gudang. Reflek Conan menembak mereka bersamaan dengan kedua pistolnya. Lalu, muncul lagi satu dari jendela gudang. Kali ini Ai yang menembakinya. Monster-monster­ itu terus bermunculan. Conan dan Ai terus menembaki mereka sambil bergerak untuk kabur. Mereka sadar amunisi mereka tidaklah banyak untuk menghadapi semua makhluk itu. Profesor Agasa disuruh bergerak di antara Conan dan Ai agar mereka bisa mengawalnya karena cuma Profesor Agasa yang tidak membawa senjata. Biarpun bawa, kakek itu tidak akan bisa menggunakannya dengan baik.

"Ke sini!" seru Conan sambil berbelok masuk ke dalam salah satu gudang.

Ai dan Profesor Agasa ikut masuk. Pintu pun kemudian ditutup rapat dan dikunci dengan diganjal dengan sebuah pipa patah yang ada di dekat situ. Mereka menunggu sebentar untuk melihat apakah para makhluk itu menyadari mereka bersembunyi di situ atau tidak. Setelah menunggu cukup lama, tidak terjadi apa-apa. Mereka semua bernafas lega.

Ai berbalik dan tiba-tiba salah satu makhluk kanibal muncul untuk menerkamnya. Sebuah peluru melesat di samping kepala gadis itu di saat yang hampir bersamaan dan menembus tengkorak makhluk itu sehingga rubuh tak bergerak.

Conan yang menembak tadi itu menyarungkan pistolnya dengan tanpa ekspresi. "Kita diam di sini dulu sampai situasinya menjadi aman untuk kembali melanjutkan perjalanan," ujarnya. "Dan juga tetap waspada. Makhluk itu masih manusia yang berotak. Hanya saja punya nafsu makan yang gila."

Ai masih mematung di tempat akibat terkejut dengan kemunculan makhluk yang nyaris menerkamnya itu.

"Ai, kau tidak apa-apa?" tanya Profesor Agasa, menghampiri Ai.

"Aku... tidak apa-apa," jawab Ai pelan. "Cuma sedikit syok."

Conan bisa melihat kalau gadis itu gemetaran. Memang siapa pun akan syok dengan serangan yang seperti itu. Tak terkecuali Ai yang bersifat dingin.

~Black Virus~

Tak disangka hujan kembali deras. Biarpun hujan deras, aktifitas para makhluk kanibal tetap terus berlanjut. Mereka mencari Conan dan lainnya yang masih bersembunyi.

Conan mengintip ke luar jendela sebentar. Dia kemudian berjalan menjauh, kembali ke tempat Ai dan Profesor Agasa sedang duduk. "Mereka belum berhenti mencari kita. Jumlah mereka juga semakin bertambah," ucapnya.

"Mungkin tuntutan virus yang sudah menginginkan makanan mereka," kata Profesor Agasa.

Conan melihat ke arah Ai. Gadis itu cuma duduk diam saja. Dia sedang memeluk dirinya. Terlihat tubuhnya juga sedikit gemetaran. Terlihat jelas kalau dia itu sedang kedinginan apalagi cuma dia yang tidak memakai jaket.

Conan melepas jaketnya dan memakaikannya pada Ai. Tentu saja Ai kaget melihatnya.

"Pakai saja. Aku sudah biasa dengan udara sedingin ini. Aku bahkan pernah merasakan yang lebih dingin," kata Conan.

Ai menunduk. "Terima kasih," ucapnya.

Conan berdecak pinggang dan menatap ke arah jendela. "Kita tidak bisa terus-terusan diam di sini. Tapi, bagaimana cara kita bisa kabur dari makhluk-makhluk­ itu? Mereka terlalu banyak di luar."

"Itu wajar, 'kan?" ucap Ai. "Kita ini semakin dekat dengan tempat sumber masalah. Kalau di sini saja mereka sudah begitu banyak, bagaimana dengan di markas nanti?"

Conan menghela nafas. "Kalau begitu, kita bergerak saja sekarang."

Profesor Agasa dan Ai kaget.

"Sekarang? Bukannya kau bilang jumlah mereka terlalu banyak?" tanya Profesor Agasa.

"Memang, tapi semakin banyak mereka yang berkeliaran, tempat kita untuk bergerak jadi semakin sempit. Kita bisa terjebak di sini dan terkepung," jelas Conan. Dia berbalik menghadap Profesor Agasa dan Ai. "Aku akan mencoba mengalihkan mereka sebanyak mungkin. Dan kalian segera pergi ke markas. Aku akan mencoba menyusul secepat mungkin bila sudah berhasil mengatasi monster-monster­ itu."

"C-1, bukannya aku sudah bilang, semakin dekat kita ke markas, kondisinya akan semakin berbahaya. Kau mau kami mati terbunuh sebelum memasuki markas?" protes Ai.

"Terus mau bagaimana lagi?"

Mereka semua mendadak terdiam begitu mendengar geraman anjing. Mereka menengok ke arah asal suara itu yang berasal dari tumpukan kotak kayu di samping ruangan. Sesosok anjing botak yang berkondisi sama seperti para makhluk kanibal, keluar dari tumpukan kotak itu. Dia menggeram antara marah atau sudah bernafsu untuk memangsa.

"Lari!" seru Conan.

Ai dan Profesor Agasa lari duluan. Conan hendak menyusul, tapi anjing itu sudah berlari dan menerjangnya. Untunglah Conan masih bisa sempat menahan kepala anjing itu sebelum dia menggigit walaupun tetap saja terbanting ke belakang karena terdorong. Dia berusaha mati-matian menahan kepala anjing yang ingin memangsanya itu. Dan dengan sekuat tenaga, Conan mematahkan leher anjing itu. Anjing itu langsung mati. Conan menyingkirkan mayat anjing itu dari atas tubuhnya.

"C-1, cepat!" seru Ai.

Saat yang sama muncul anjing-anjing lainnya dari balik kotak-kotak yang lain yang berada di gudang tersebut. Mereka semua langsung berlari ke arah Conan dan lainnya. Conan segera berdiri dan berlari menyusul teman-temannya yang lain yang menunggu di depan pintu.

Begitu keluar, Conan segera mengganjal pintu tersebut dengan pipa yang diberikan Ai. Pintu langsung didobrak-dobrak­ dengan heboh oleh para anjing di dalam. Kondisi jadi bertambah parah dengan datangnya para makhluk kanibal lain yang bermunculan karena mendengar suara gaduh dari pintu yang didobrak para anjing.

"Cepat lari!" seru Conan, mencabut pistolnya dari sabuk. Dia mulai menembaki para monster kelaparan itu.

Ai dan Profesor Agasa berlari. Disusul oleh Conan sambil terus menembak. Ai juga terus menembak para makhluk kanibal yang bermunculan di dekatnya. Jumlah makhluk itu sama sekali tidak terlihat berkurang. Justru malah terasa semakin banyak dan tidak ada habisnya. Seperti yang dikatakan Ai sebelumnya, semakin dekat dengan markas, semakin banyak jumlah mereka.

Para makhluk kanibal masih terus bermunculan. Saat Conan tengah menembak, tembakannya mendadak berhenti karena pelurunya habis.

"Sial!" umpat Conan. "Kalau begini..." Dia menyarungkan senjatanya. Dia kemudian berlari mendekati para makhluk kanibal yang berada di dekatnya dan melawan mereka dengan gerakan bela diri yang dikuasainya.

Ai dan Profesor Agasa sudah tiba di depan pintu markas. Pintu itu membaur dengan potongan-potong­an logam bekas yang dibuang di situ sebab setelah pabrik tutup, banyak yang membuang logam-logam bekas berukuran besar di pabrik tersebut. Dengan kata lain pabrik itu sudah berubah menjadi tempat pembuangan sampah logam mengingat pabrik tersebut sebenarnya merupakan pabrik barang-barang logam. Tidak heran kalau markas Organisasi Hitam tidak ditemukan karena pintu masuknya sendiri kelihatan seperti tumpukan sampah.

Ai menekan-nekan beberapa bagian permukaan logam seperti menekan tombol. Lalu, terdengar bunyi desisan gas yang disusul oleh bergeraknya dinding logam seukuran pintu. Ai menyiapkan SMG-nya. Dia tak peduli suara senjatanya itu akan terdengar karena sekarang terdengar atau tidak, sama saja kondisinya.

Pintu geser otomatis itu semakin terbuka lebar. Ai semakin bersiap bila sampai ada yang menanti di balik pintu. Benar saja, beberapa makhluk kanibal langsung menerjang begitu pintu terbuka cukup lebar. Ai segera menembak mereka tanpa segan-segan sampai tak ada lagi yang terlihat hidup di depannya.

"Kelihatannya sudah bersih di sini," gumamnya. "C-1, cepat masuk!" serunya pada Conan yang masih sibuk menghajar para makhluk kanibal yang mengepungnya.

Conan terus saja menghajar para monster itu. Jumlah mereka terlalu banyak untuk dilawan dengan tangan kosong. Dia juga mulai tampak kewalahan. Ai bermaksud membantu saja dengan menembak dari jauh. Baru saja dia mau menembak, sebuah tangan besar keluar dari dalam pintu masuk dan menghempaskanny­a dengan keras sampai terlempar jauh dan menghantam tumpukan plat logam. Dia pun langsung terbaring tak berdaya.

Profesor Agasa pun langsung jadi sasaran berikutnya setelah tangan itu menghempaskan Ai. Kakek itu jadi tersungkur dan tak sadarkan diri apalagi dia sudah terlalu tua untuk bisa menahan hantaman tangan besar itu.

Conan menghajar monster terakhir yang berada di dekatnya. Dia terbelalak saat melihat Ai dan Profesor Agasa terbaring tak bergerak. Dia semakin terbelalak saat melihat monster berbadan sangat besar keluar dari dalam markas sampai pintu yang kecil itu jadi menganga ketika makhluk itu memaksa keluar.

Tinggi monster itu ditafsir sekitar 3 meter. Berbadan sangat besar dan kekar dengan urat-urat yang terlihat sangat jelas di kulitnya. Wajahnya sudah tidak lagi seperti manusia walaupun sekilas-sekilas­ masih terlihat mirip. Makhluk sebesar itu pasti telah memporak-porand­akan bagian dalam markas.

Conan menatap pucat monster yang satu ini. Selama menjadi petarung, dia belum pernah melawan makhluk yang sebesar itu karena yang dia lawan paling besar adalah pria berotot yang pastinya tidak sampai sebesar itu.

Monster itu mengangkat tangannya dan melesatkannya ke arah Conan. Dengan cekatan, Conan melompat menghindari serangan makhluk itu sehingga serangannya itu mengenai tanah. Dentuman yang dihasilkan begitu besar. Tanah sampai bergetar hebat. Melihat hal itu saja, Conan tahu kekuatannya sama sekali tidak sebanding untuk melawannya.

Terdengar suara tembakan disertai melesatnya sebuah peluru dan mengenai kepala si monster. Monster itu agak termundur. Kepalanya berdarah, tapi tidak terlihat banyak berpengaruh. Conan melihat ke arah datangnya tembakan yang rupanya berasal dari Ai.

Tak disangka, monster itu melompat tinggi di udara dan melayang ke arah... Ai! Conan segera berlari ke tempat Ai secepat yang ia bisa. Tapi, kelihatannya monster itu lebih cepat. Ai yang masih belum pulih, hanya bisa menatap pucat kedatangan monster itu.

"AI!"

Conan melompat dan berhasil menangkap Ai dan menjauhkannya tepat sesaat sebelum monster itu mendarat.

"Jangan bodoh! Kau bisa saja diinjaknya tadi!" bentak Conan antara cemas dan kesal pada Ai yang berada di pelukannya.

Bocah kacamata itu merasakan kedatangan si monster. Dia berbalik dan melihat monster itu sudah berancang-ancan­g melancarkan pukulannya. Conan kembali menggendong Ai dan bergerak menghindar.

Para makhluk kanibal lain mulai bermunculan dan berteriak-teria­k di sekitar lapangan kecil tempat Conan dan lainnya melawan si monster. Suasananya membuat Conan merasa berada di arena pertarungan lagi seperti saat dirinya masih menjadi petarung Organisasi Hitam. Pikiran dan perasaannya langsung jadi bergejolak. Hal yang juga selalu terjadi saat dirinya berada di arena pertarungan. Dia benci mengakuinya, tapi dia memang selalu merasa ada gejolak semangat saat berada di arena pertarungan yang suasananya seperti sekarang.

Conan mendudukkan Ai di dekat Profesor Agasa yang baru siuman yang berada di pinggir lapangan.

"C-1, kau mau melawannya?" tanya Ai. "Dia terlalu kuat untuk kau lawan."

"Tak apa," sahut Conan. Dia melepas sabuk pistolnya dan memberikannya pada Ai. "Akan aku melawannya."

"Conan, jangan memaksakan diri," kata Profesor Agasa yang terlihat sangat cemas pada anak asuhnya itu.

"Tenang saja, Profesor. Aku akan mengalahkannya.­" Conan mejawab dengan sangat yakin.

Bocah itu berjalan ke tengah lapangan. Dia yakin monster yang akan dilawannya itu adalah salah satu petarung juga karena makhluk itu menunggu di tengah lapangan seperti yang biasa dilakukan para petarung sebelum mulai bertarung; menunggu lawannya datang.

Sekarang Conan dan si monster telah saling berhadapan. Suara sorak-sorakan semakin keras. Ai dan Profesor Agasa hanya bisa menonton dari pinggir lapangan. Kedua petarung itu saling menatap tajam. Sekarang kemampuan masing-masing petarung akan menentukan sebuah kemenangan dan juga hidup dan mati. Kalau Conan kalah, dia dan kedua orang yang bersamanya akan menjadi mangsa. Tapi, kalau Conan menang, apa yang akan terjadi?

To be continued...

Reactions
This entry was posted in

0 Comments: