CONAN, Act 3: The Love

 "Sebenarnya akulah yang membuat makhluk itu jadi ada."

Antara percaya atau tidak, Conan benar-benar kaget mendengarnya. Seorang gadis yang sebaya dengannya yang membuat monster itu?

"Apa maksudnya ini?" gumam Conan. "Apa hubunganmu dengan Organisasi Hitam?"

"Aku adalah ilmuan mereka sejak 3 tahun yang lalu," jawab si gadis berambut kecoklatan itu. "Namaku Ai Haibara."

"Ilmuan?" Conan menatap tidak percaya.

"Aku menggantikan kakakku yang mereka bunuh 3 tahun lalu karena Kakak ingin berhenti dari pekerjaannya itu. Kakakku itu juga ingin melaporkan mengenai pembuatan obat ilegal dan juga pertarungan ilegal yang selama ini telah berlangsung. Tapi, rencananya itu ketahuan dan akhirnya... dibunuh." Ai menceritakannya­ dengan wajah sedih. Hampir menangis.


Akhirnya Conan bisa tahu siapa pembuat obat yang dia konsumsi selama di markas Organisasi Hitam. Sebelum 3 tahun yang lalu, dia mengkonsumsi obat kakak Ai. Sejak 3 tahun yang lalu, barulah dia mengkonsumsi obat yang dibuat Ai. Pantas saja reaksi obatnya terasa berbeda antara yang 3 tahun lalu dan yang sebelum 3 tahun yang lalu.

"Kau ini pasti salah satu petarung ilegal Organisasi, 'kan?" duga Ai.

Conan diam sesaat. "Ya, aku C-1," jawabnya.

Ai terbelalak. "C-1? Kau? Berarti kau orang yang paling beruntung karena tidak mencoba obat yang kubuat di hari kau kabur itu. Sebab obat itulah yang membuat para petarung yang mencobanya menjadi seperti sekarang. Monster kanibal."

Conan terdiam. "Kau bercanda? Obat itu?"

"Ya, obat itu," jawab Ai yakin. "Memang awalnya terlihat tidak ada keanehan selain bertambah kuat dan semacamnya. Dan itu tetap ada walaupun tidak menyuntikkan lagi obatnya. Organisasi menganggap akhirnya obat yang mereka cari berhasil ditemukan dan mereka mulai memintaku untuk memperbanyak dan selanjutnya dijual ke berbagai tempat. Aku tidak tahu ke mana saja mereka menjualnya. Tapi, setelah sebulan berlalu, efek sebenarnya akhirnya terlihat. Fisik para petarung mulai terlihat perubahan. Seluruh bulu di tubuh mereka mulai rontok, kulit memucat, dan mata mereka menjadi merah. Tingkah mereka juga mulai berubah. Mereka sering menyambar siapa pun yang lewat di dekat sel mereka. Mereka juga hampir selalu mengamuk."

Ai berhenti sejenak. Dia melihat wajah Conan serta Profesor Agasa yang begitu serius mendengarkan ceritanya.

"Akhirnya amukan mereka mencapai puncaknya semalam," lanjut Ai. "Mereka menjebol sel mereka dan menyerang semua orang yang ada di markas. Di tengah kekacauan itu, aku pun kabur." Dia mengakhiri ceritanya.

Itu obat yang mengerikan. Kalau saja obat itu berhasil disuntikkan saat berhasil kabur, Conan yakin, dia pasti sudah memangsa Profesor Agasa semalam dan saat ini dia sedang memangsa teman-temannya.

"Kenapa kau membuat obat yang seperti itu?" tanya Conan.

"Untuk membalas perbuatan Organisasi terhadap kakakku," jawab Ai. "Karena aku pasti tidak bisa membunuh mereka semua, maka aku menggunakan petarung-petaru­ng mereka itu untuk menghabisi mereka. Bukannya itu juga membantu para petarung itu untuk melampiaskan kemarahan mereka terhadap Organisasi yang telah mengurung mereka? Hebat bukan rencanaku itu?"

Tanpa bicara apa-apa, Conan menampar keras wajah Ai. Tamparannya mungkin terlalu kuat untuk Ai sehingga dari sudut bibir gadis itu mengeluarkan darah. Pipinya juga sampai merah sekali. Ai menatap Conan yang menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam dan penuh kemarahan.

"Kau bodoh!" bentak Conan. "Kau pikir itu bagus? Kau membuat kesalahan besar dengan menjadikan para petarung sebagai budakmu yang tidak bisa kau kendalikan. Kau harus sadar, menjadi petarung Organisasi adalah dosa terbesar kami sebagai para petarung karena kami mau tidak mau harus membunuh lawan kami. Dan sekarang kau membuat para petarung tidak bisa berhenti memangsa orang-orang tidak bersalah padahal mereka sudah lama ingin berhenti melukai siapa pun!"

Ai cuma terdiam dengan mulut menganga mendengar bentakan Conan itu.

"Bukan cuma itu saja. Siapa pun yang mereka gigit dan masih hidup, akan berubah menjadi seperti mereka juga. Mereka menyebarkan virus mereka melalui gigitan. Ini bisa menjadi pandemik terparah yang pernah terjadi kalau tidak segera diatasi. Aku pun... aku pun...," Conan menatap miris pistolnya, "harus membunuh mereka bila penawarnya tidak segera diberikan pada mereka."

"Menular? Virusnya dapat menular?" Ai menatap tidak percaya.

"Kau tidak tahu?" Nada bicara Conan meninggi. "Kau tidak tahu padahal kau yang membuatnya?" Dia tersenyum sinis. "Bagus, bagus sekali." Dia kembali membentak. "Sekarang kau puas dengan apa yang kau perbuat itu, hah?"

Ai tidak berkata apa-apa. Dia terlihat sangat syok dengan kenyataan yang rupanya belum diketahuinya itu. Conan berbalik sambil mengacak-acak rambutnya karena frustasi. Kondisi cuaca yang semakin buruk, juga memperburuk suasana.

"Lalu, di mana obat penawarnya?" tanya Conan sambil menengok ke belakang, melihat Ai yang masih tertunduk syok.

Ai tetap diam saja. Conan pun menghampirinya sambil mengguncangkan tubuhnya.

"Ai, di mana obat penawarnya?" tanyanya lagi. "Kau yang membuat obat itu, jadi kau pasti tahu penawarnya. Mereka masih bisa dikembalikan menjadi manusia normal bila ada penawarnya."

Ai masih diam untuk beberapa saat. "Aku... tidak membuatnya," jawabnya ragu sambil menatap ke arah lain.

Kemarahan Conan hampir meledak saat itu. Tapi, dia berusaha untuk tidak menghajar gadis di depannya itu. Menamparnya sekali saja sudah cukup membuat dirinya juga merasa serba salah tadi karena yang di hadapannya itu adalah perempuan. Kalau saja laki-laki, mungkin sudah dia tembak saat itu juga. Tidak akan sampai terbunuh, hanya akan membuatnya sekarat saja.

"Lalu, kau masih bisa membuatnya?" tanya Conan, mencoba meredakan amarahnya.

"Ya, asalkan ada datanya yang kutinggalkan di markas Organisasi," jawab Ai.

Kesunyian langsung lewat di antara Conan dan Ai. Conan menatap terkejut luar biasa dengan apa yang didengarnya. "Datanya ada di markas?" tanyanya tak percaya.

"Ya," jawab Ai yakin.

Conan menepuk keras dahinya dan sambil bergumam tidak jelas. "Baiklah, sekarang kita ke markas mereka, ambil datanya, dan segera buat obatnya sebelum semua terlambat. Aku tidak ingin hal ini menjadi apa yang kutakutkan," katanya. Dia menarik tangan Ai untuk masuk ke mobil di mana Profesor Agasa sudah berada di mobil duluan dan menyalakan mobilnya. Ai duduk di belakang, sedangkan Conan di depan.

"Kita ke mana?" tanya Profesor Agasa.

"Kita ke daerah pinggir kota sebelah utara," jawab Conan sambil mengenakan sabuk pengaman.

Profesor Agasa terkejut. "Ke sana? Bukannya di sana daerah yang berbahaya karena banyak orang yang hilang bila ke sana?"

"Orang-orang itu hilang karena Organisasi Hitam ada di sana. Ada yang dibunuh dan ada yang dijadikan petarung. Tidak perlu heran begitu, 'kan?" jelas Conan. "Cepat jalan. Kita harus segera membuat obatnya," sambungnya yang tanpa disadarinya terdengar seperti memerintah karena emosinya sedang tidak stabil.

Mobil pun melesat di tengah hujan yang mengguyur lebih deras. Saat jalan Conan sadar kalau mobil pemadam belum datang. Ini sangat tidak biasa. Tidak mungkin para pemadam kebakaran terlambat datang sedangkan jarak markas pemadam tidak jauh dari lokasi. Conan sempat merasa tidak nyaman. Tapi, sekarang dia tidak bisa memikirkan hal itu dulu. Saat ini dia harus bisa mendapatkan data obat sehingga para makhluk kanibal itu kembali seperti semula.

Untuk menuju ke daerah pinggir kota sebelah utara, tentu harus melewati pusat kota karena letaknya berlawanan dengan daerah perumahan yang ada di sebelah selatan. Butuh 10 menit untuk mencapai pusat kota Beika. Dan hal yang tak terduga menyambut mereka di sana, membuat Profesor Agasa mengehentikan mobilnya dan para penumpangnya terbelalak.

Kota porak-poranda dengan orang-orang yang berlarian panik ke sana-kemari. Terlihat ada pula yang dimangsa oleh makhluk kanibal. Pihak keamanan sendiri terlihat kewalahan. Mereka terlihat bingung antara menyelamatkan orang dan diri sendiri. Ternyata virus sudah merambat dengan sangat cepat sampai ke pusat kota.

"Ini... bohong, 'kan?" gumam Conan tak percaya.

"Hei, ini bukan saatnya melamun. Bukannya sekarang kita sedang terburu-buru?" kata Ai yang sudah tidak mempedulikan keadaan di sekitarnya. "Kita harus segera membuat obat penawarnya sebelum keadaan bertambah buruk, 'kan?"

Perkataan Ai ada benarnya. Kalau begini, secara sangat terpaksa Conan harus tidak mempedulikan orang-orang yang sebenarnya sangat membutuhkan pertolongannya.

Mobil kembali berjalan. Profesor Agasa berusaha untuk mengendarai tanpa membuat mobil kesayangannya ini rusak menghantam reruntuhan bangunan dan kendaraan-kenda­raan yang terparkir sembarang.

Hati nurani memang lebih kuat dari apa pun. Conan memasang peredam suara pada kedua pistolnya. Dia kemudian menembaki para makhluk kanibal yang berkeliaran. Setiap tembakan yang kena membuat hatinya terasa sakit. Semakin banyak yang kena, semakin sakit hatinya. Biarpun mereka telah berubah menjadi kanibal, mereka masih tetap manusia. Sampai suatu hal membuatnya berseru.

"Berhenti!"

Profesor Agasa reflek merem mobilnya. Ai yang di belakang jadi terjungkal ke depan.

"Jangan berhenti tiba-tiba!" protes Ai. "Ada apa, sih?"

Conan melompat turun dari mobil lewat jendela. Dia berlari sambil tangannya mengacungkan pistol ke depan, ke arah makhluk kanibal yang hendak menerkam seorang gadis SMU yang terlihat sangat ketakutan.

Dari jarak dekat, Conan menembak kepala makhluk itu. Makhluk itu pun terjatuh di atas trotoar dengan kepala bersimbah darah. Conan terengah-engah sambil menatap monster menyebalkan namun sangat dikasihaninya itu. Gadis yang ditolongnya masih terdiam gemetaran di tempat, menatap pucat pemandangan di hadapannya.

"RAN!" Seorang pemuda SMU berlari menghampiri si gadis yang masih duduk gemetaran.

"Shinichi!" Gadis itu mendekap erat pemuda itu sambil menangis.

Conan hanya bisa menatap mereka dengan mata sayu. Dia segera memalingkan wajahnya dan melangkah kembali menuju mobil.

"Adik kecil," panggil si pemuda yang dipanggil Shinichi itu.

Conan berhenti melangkah.

"Terima kasih," kata Shinichi.

"Tidak perlu berterimakasih.­ Segeralah pergi," kata Conan dengan nada agak dingin tanpa menengok sedikit pun.

Dia bisa mendengar suara langkah kaki mereka yang menjauh. Conan semakin memperkuat genggamannya pada kedua pistol kembarnya. Hatinya yang sedang sakit, jadi jauh lebih sakit.

Conan melompat masuk ke dalam mobil melalui jendela. Dia mengenakan sabuknya kembali. "Jalan lagi," pintanya dengan nada yang masih dingin.

Profesor Agasa kembali melajukan mobilnya.

Conan cuma menunduk saja setelah itu. Dia tak lagi menolong orang-orang yang dikejar-kejar oleh para makhluk kanibal. Auranya menjadi suram. Dia mencengkeram erat baju di bagian dadanya sambil meringis.

"Kalau kulihat, kurasa gadis itu terlalu tua untukmu, C-1," kata Ai tiba-tiba.

Conan kaget. "Apa maksudmu?" tanyanya walaupun sebenarnya sudah tahu apa yang gadis itu maksud.

"Kau menyukainya, 'kan?" tebak Ai dengan nada sarkastik.

Conan tidak menjawab.

"Sayangnya gadis itu menyukai pemuda itu. Kalau aku menjadi kau, itu pasti sangat menyakitkan."

"Tak apa," sahut Conan. "Aku juga hampir tidak pernah muncul di hadapannya langsung. Kurasa wajar dia menyukai orang lain."

Ai tersenyum sinis. "Yah, itu memang kesalahan terfatalmu. Tapi, biarpun kau muncul juga dia akan tetap menyukai pria lain karena kau pasti hanya akan dianggap sebagai adik mengingat kau jauh lebih muda darinya."

Conan tidak lagi merespon.

Ya, sebenarnya Conan menyukai gadis yang diselamatkannya­ tadi, Ran Mouri. Dia pertama kali bertemu dengan gadis itu saat pulang sekolah 2 minggu yang lalu. Saat itu hari hujan, sama seperti sekarang. Karena hujan selalu mengingatkannya­ pada pelariannya, dia suka terdiam menatap langit sambil diguyur hujan. Saat itu Ran muncul sambil memayunginya.

"Jangan hujan-hujanan. Nanti kamu bisa sakit."

Gadis itu menjadi orang pertama yang mau berbicara lembut padanya. Semenjak masuk sekolah, belum ada yang mau berbicara dengannya karena dia terlihat dingin. Saat pengenalan juga Conan tidak tersenyum. Sebenarnya bukannya dia tidak mau bersikap ramah, dia hanya tidak ingin punya teman dulu karena Organisasi Hitam masih memburunya. Kalau mereka tahu dirinya punya teman, temannya pasti akan mendapat masalah. Bersama dengan Profesor Agasa saja dia was-was walaupun jati dirinya belum ketahuan oleh organisasi itu.

Biarpun saat dihampiri Conan masih memasang tampang dingin, Ran tetap mau berbicara lembut padanya sampai mengantarnya pulang saat itu. Itulah yang membuat Conan tertarik padanya biarpun usia berbeda jauh. Sayangnya hal itu hancur saat tahu kalau Ran menyukai pria lain, yaitu Shinichi Kudo, seorang detektif muda yang terkenal. Conan sama sekali tidak tertarik dengan pemuda itu, benci malah karena telah merebut orang yang disukainya. Tapi, dia pasrah saja. Memang kenyataannya akan sulit mendapatkan hati seorang gadis yang jauh lebih tua darinya. Ditambah lagi tampangnya masih lebih mirip anak SD ketimbang anak SMP. Maklum baru memasuki masa remaja.

Benar yang dikatakan Ai, dirinya pasti hanya akan dianggap adik oleh Ran walaupun sudah saling kenal.

Conan menguatkan hatinya. Sekarang ini bukan saatnya mempermasalahka­n cinta. Dia harus segera menyelesaikan masalah virus brengsek yang telah mengacaukan Kota Beika ini.

To be continued...

Reactions
This entry was posted in

0 Comments: