Cara Membersihkan Cermin



Cobalah cara yang sangat sederhana ini.

1) Masukkan satu sendok cuka dan sedikit air ke dalam botol penyemprot. 
2) Semprotkan cermin dengan air cuka dan lap dengan kain lembut yang tidak berbulu hingga berkilat. 
3) Basahkan sehelai koran / surat kabar. Tabur sedikit bedak pada koran dan gunakan untuk mengelap cermin. Ulang beberapa kali hingga kaca menjadi kinclong ;) 

Perangkap Nyamuk

Kesal karena di rumah banyak nyamuk? Di kantor atau di tempat usaha, barangkali? 

Udah sering coba macam-macam pembasmi nyamuk. Dari yang elektrik, semprot, dan dioleskan ke kulit. Sayang, semuanya mengandung racun, ya? Kalau dipakai berkepanjangan, bisa-bisa mendatangkan penyakit. Mau menghindar dari penyakit yang diakibatkan nyamuk, malah mendapat penyakit baru? Sebel ya?

Sekarang tak usah kesal. Ada cara sederhana untuk membasmi nyamuk. Ini semacam perangkap. Membuatnya gampang. Bahan-bahannya pun sederhana. Mau tahu? Ini dia.

Siapkan : 
- 300 ml air panas
- 75 gram gula merah
- 1,5 gram ragi instan (untuk roti)
- 1 botol plastik bekas ukuran 2 liter

Cara membuatnya :
- Potong botol plastik menjadi 2 bagian. Bagian atas (corong) dan bawah.
- Campur gula merah dan air panas hingga lebur (mencair)
- Tuang cairan gila merah ke dalam bagian bawah botol.
- Masukkan ragi instan. Ragi berguna sebagai karbon dioksida pemancing perhatian nyamuk.
- Letakkan bagian corong botol secara terbalik ke dalam bagian bawah botol.
- Lakban botol dengan lakban hitam.
- Letakkan perangkap nyamuk di sudut-sudut rumah, kantor, toko, atau di tempat-tempat yang banyak nyamuknya.
- Biarkan sekitar 2 minggu. Niscaya, botol sudah penuh dengan nyamuk yang mati karena terperangkap dan tidak dapat keluar lagi.
- Jika sudah penuh, dan ingin dipakai lagi, cucilah botol dan lakukan langkah-langkah seperti di atas tadi.

Selamat berburu nyamuk ;)


Foto Kamar Anak

Anak jaman sekarang, sudah cerdas-cerdas. Mereka sudah pintar mengatur kamar sendiri sesuai dengan kepribadian serta hobi masing-masing. Dan bagi orangtua, jangan lupa untuk mendampingi anak dalam mengatur kamar mereka. Berikut foto kamar-kamar anak dari beragam sumber.


Kita Harus Cerdas


Penipuan terjadi lagi. Lihat dan baca kejadian di foto ini. Bahwa seorang Gojek tertipu sebesar 600 ribu setelah ia diminta membeli sebuah paket oleh customernya. Menurut korban ini juga, uang 600 ribu itu cukup besar dan ia mendapatkannya dengan bersusah payah, berpanas-panasan. Sungguh kasihan. Dan turut berduka, karena masih saja ada orang-orang yang tega menipu orang kecil ini.

Untuk kedepannya, jadilah pelaku bisnis yang cerdas dan tegas. Jika ada permintaan (apapun jenisnya) dengan mengharuskan kita menalangi atau menggunkan uang kita terlebih dahulu, pahamilah, kemungkinan besar itu adalah penipuan.

CONAN, Act 2: The Past

Conan terbaring lemah di atas lantai sebuah penjara yang dingin. Pakaiannya yang terdiri dari kaos, celana, dan jubah coklat usang melekat di tubuhnya. Dan ditemani sepasang pistol semi otomatis yang telah dimodifikasi berwarna hitam yang diletakkan begitu saja di atas lantai di hadapannya. Dia menatap sayu kedua senjatanya itu. Senjata yang selalu digunakan bila dipanggil oleh orang-orang berbaju hitam yang tidak dikenalnya sama sekali, untuk bertarung nanti. Sebuah pertarungan aduan hidup dan mati.
This entry was posted in

CONAN, Act. 1 : The Canibal

by. Someone

 "Ah, sial! Aku terlambat!"

Dengan roti yang masih di mulut, Conan berlari keluar rumah dengan sangat terburu-buru karena 10 menit lagi masuk sekolah. Setelah melewati pagar, dia meletakkan Sky Board—papan seluncur tanpa roda yang berjalan dengan cara melayang—dan melaju pergi.

Dia terus mengumpat kesal sambil terus mengunyah sarapannya yang hampir tidak sempat dimakan itu. Kalau saja semalam tidak ada pertandingan sepak bola, dia tidak mungkin kesiangan seperti sekarang. Ditambah lagi guru yang mengajar adalah guru killer yang sedang menggantikan wali kelasnya untuk sementara. Hukuman yang diterima bisa bukan cuma berdiri di koridor saja nanti. Pasti ada 'plus-plus'-nya. Kalau membayanginya, jadi merinding.
This entry was posted in

THRILLER adalah ....

Cerita seru (bahasa Inggris: thriller) adalah sebuah genre sastra, film, dan acara televisi yang memiliki banyak subtipe di dalamnya. Tipe alur ceritanya biasanya berupa para jagoan yang berpacu dengan waktu, penuh aksi menantang, dan mendapatkan berbagai bantuan yang kebetulan sangat dibutuhkan untuk menggagalkan rencana-rencana kejam para antagonis yang lebih kuat dan lebih lengkap persenjataannya.

Karena ternyata masih banyak yang bingung mengartikan apa itu Genre THRILLER, so, aq akan mengambil sumber dari Wikipedia Bahasa Indonesia, untuk menjelaskan arti Thriller secara lengkap. 

Jangan pandang rendah Penerbit Indie

Penerbit Indie ngadain Event menulis berhadiah Novel terbit + E-sertifikat atau pulsa 10 sampai 20 ribu, atau potongan harga buku bagi kontributor yg tulisannya lolos terbit, apa itu melecehkan penulis?
Jelas TIDAK!
Kenapa?
Karena tidak ada unsur penghinaan yang melecehkan dalam hal ini. Apa karena hadiahnya kecil lantas dianggap melecehkan? Kalau begitu, para penulis yang menganggap dirinya layak dapat hadiah besar yah ga usah ikut. Kan ga ada yang maksa. Lagian, semua juga tahu Penerbit Indie tak lah sebesar mayor. Mereka ga punya sponsor, kadang ga punya link dengan toko buku, kebanyakan mandiri dengan modal kecil. Jadi bila hadiahnya pun sesuai isi kantong, mestinya dapat nilai maklum lah. Bukan dicap melecehkan.

Justru Penerbit Indie berjasa besar dalam dunia literasi di tanah air. Kenapa? Karena para penulis pemula yang berkali-kali ditolak penerbit Mayor, akhirnya bisa menerbitkan bukunya di Indie. Itu sudah memiliki kebanggan tersendiri, kan? Ngaku yok?

Yah, okey, buku-buku Indie ga masuk toko buku. Mereka hanya dijual online, dijual ketika ada yang beli, dijual hanya kepada teman-teman dan kenalan, dijual dalam ruang lingkup yang kecil dan terpaksa pake ongkos kirim. Tapi gapapa, kok. Namanya juga usaha. Daripada ngarepin Mayor ampe tua ga lolos2. Jadi ... Terbit di Mayor? Itu hanya masalah waktu. Yang menjadi point penting dalam hal ini, Indie telah mengabadikan karya kita.

Soal E-sertifikat yang konon telah menjadi buah bibir karena tak ada manfaatnya? Siapa sih yang bilang gitu? Ada dong manfaatnya.
1. Tanda tulisan kita lolos / menang.
2. Mengingatkan kalau tulisan itu sudah pernah ikut lomba. Jadi ga bakal kita ikutkan lagi dengan dalih pura2 lupa.
3. Buat diceritain ke anak cucu. Coba deh bayangi ntr kalo punya anak, tau2 anak pulang sekolah nangis-nangis dan bilang : "Ma, mamanya si Tina punya sertifikat menulis. Mama kok ga punya?"
Yah, sukur2 kalo kita punya sertifikat menjahit atau memasak, jadi anak bisa banggain kita juga... hehehe. Lha kalo ga punya gegara dulu kita menganggap sertifikat2 itu tak berguna? Ckck!
Ini hanya sebagian kecil kebaikan-kebaikan dari event Indie. Aq rasa masih banyak yang lainnya, yang aq belum sadari. Maklum, penulis pemula yang memulai langkah dari Indie wink emoticon

Hanya, inti dari 'novel' ku ini, Indie atau Mayor, itu sama tujuannya. Sama2 merangkul para penulis! Tak perduli apapun hadiahnya!

Sekian dan terima gaji!
‪#‎turunPodium‬

Pe(me)nulis harus punya prinsip

"Aku akan tetap menulis, meski hanya aku yang membacanya."


Prinsip itu tercipta ketika aku melihat sudah berlembar-lembar, bahkan berbuku-buku tulisan yang kuhasilkan. Ups, maksudku, kutulis dengan tanganku sendiri. Memakai pena, tentu saja. Sebab saat itu, aku belum memiliki komputer atau laptop.

Aku mulai menulis ketika aku suka membaca. Itu terjadi sekitar ... yah, saat aku masih di sekolah menengah umum. Setiap membaca sebuah cerita fiksi / novel, yang ada di dalam benakku adalah : aku ingin menulis seperti ini. Aku ingin menjadi penulis seperti penulis buku ini. Aku ingin bisa menulis seperti penulis buku ini .... semua pikiran seperti itu berputar-putar hingga jika tidak hati-hati, mungkin aku akan jadi gila sendiri... hahahah.

Baiklah. Apa hubungan dengan judul blog-ku di atas?
Erat! Ketika aku mulai mencoba menulis, aku tahu, aku sudah memiliki pembaca yang setia. Siapa? Tentu saja diriku sendiri. Dan karenanya, aku menjadi bersemangat untuk terus dan terus menulis hingga satu cerita akhirnya tamat. Lalu, tak menunggu waktu yang lama, pembaca setiaku langsung membacanya, dan bahkan mengkritik serta mengoreksi habis-habisan.... hahahah. Asyik, kan?

Akhirnya, prinsip menulis seperti itulah yang selalu kubawa di dalam hatiku. Bahwa jika ingin menulis, tak perlu harus mencari orang lain untuk membacanya. Tak perlu merajuk jika merasa tak ada yang akan membacanya pada saat itu. Karena, kita adalah penulis. Bukan pengumpul pembaca. Iya, kan?