PREMIS

4 Poin Penting dalam Premis Cerita Untuk Penulis

Premis adalah atom dari sebuah cerita. Seberapa pun panjang naskah kamu kelak, semuanya berasal dari sebuah premis cerita yang singkat. Premis cerita harus bisa menggambarkan isi dari keseluruhan kejadian yang dialami oleh protagonis. Jadi ingat, premis utama adalah hanya tentang protagonis dalam cerita kamu.
Kamu pernah membaca sekilas cerita di belakang buku (atau yang disebut blurb)? Kamu penasaran karena membacanya. Walaupun, ada gambaran cerita di sana, tapi itu bukan premis yang kamu inginkan untuk dibuat. Itu adalah premis promosi yang disusun untuk menarik pembaca tanpa membuat bocoran, bukan premis cerita.

Pengertian Cerita Fantasi



Cerita fantasi adalah sebuah genre cerita yang berbentuk khayalan, angan-angan atau imajinasi pengarang yang diceritakan dalam alur normal.
Biasanya cerita ini memang sedikit dilebihkan dalam membangun setting, penokohan atau konflik yang tidak realistis. Malah hal itu yang membuat genre ini menonjol bahkan disukai banyak orang.

Ciri umum cerita fantasi

Ada beberapa ciri-ciri yang masuk dalam klasifikasi umum cerita fantasi berikut ini:

Ada unsur keajaiban atau keanehan di dalam cerita

Unsur yang paling dominan dalam genre fantasi adalah adanya sebuah keajaiban, misterius serta keanehan dalam plot cerita yang dibangun.
Berbagai keajaiban tersebut merupakan rekaan penulis yang biasanya mengambil tema magis, supranatural atau futuristik.

Menggunakan latar yang bervariasi

Unsur lain yang mendukung genre cerita fantasi adalah penggunaan latar yang bervariasi yakni merujuk kehidupan sehari-hari atau latar yang tidak ada dalam dunia realistis. Bisa pula diceritakan menembus dimensi ruang dan waktu.

Tokoh yang memiliki kesaktian atau keunikan

Tokoh dalam cerita biasanya memiliki watak atau kekuatan yang istimewa. Mereka melewati kejadian yang eksklusif misalnya tokoh Harry Potter yang memiliki kemampuan sihir dan mengalami banyak kejadian luar biasa di sekolah sihir Hogwarts.

Memiliki sifat fiksi

Rangkaian cerita fantasi biasanya memiliki sifat fiktif, ilusif atau fantastis. Bisa pula cerita tersebut menggunakan latar atau obyek dalam kehidupan nyata atau dipengaruhi oleh legenda atau mitos yang banyak berkembang di masyarakat.

Bahasa yang digunakan

Para pengarang fantasi biasanya menggunakan bahasa yang beragam, ekspresif dan menonjol. Ragam percakapan tidak baku membangun alur cerita yang menarik.

Jenis cerita fantasi

Berikut ini, beberapa jenis cerita fantasi yang mungkin perlu diketahui.

Fantasi total dan irisan(sebagian)

Fantasi total adalah cerita yang dibangun penulis merupakan cerita yang total tidak menggunakan kehidupan di dunia nyata seperti The Lord of The Rings.
Fantasi sebagian atau irisan adalah cerita yang memerlukan latar, obyek atau nama dalam kehidupan nyata yang bercampur dengan kehidupan fantasi.

Fantasi sezaman dan lintas waktu

Fantasi sezaman adalah jenis cerita yang menggunakan satu masa misalnya masa kini, masa lampau atau futuristik.
Sedangkan fantasi lintas waktu adalah cerita yang menggunakan dua latar yang berbeda baik masa kini dengan masa prasejarah atau menggabungkan dengan unsur futuristik.
Banyak sekali cerita fantasi yang ada di dunia mampu menuai kesuksesan secara finansial karena cara membangun plot imajinatif yang memukau.
Dengan memahami pengertian, unsur umum serta jenis fantasi akan memberikan informasi untuk para penulis yang tertarik membidik genre favorit pembaca ini.
Beberapa cerita fantasi yang telah sukses di layar lebar antara lain The Hunger Games, Harry Potter, Trilogi the Lord of the Rings, Narnia, dan lain sebagainya. Selain itu ada beberapa film animasi dengan isi cerita fantasi seperti Doraemon, Upin Ipin, Si Unyil, Kelarga Pak Somat, dan Adi dan Sopo Jarwo.
Buku fenomenal seri Harry Potter, Twilight, The Hunger Games, The Lord of The Rings atau Chronicles of Narnia adalah contoh beberapa cerita fantasi yang mendunia.
Cerita tersebut begitu menghipnotis sehingga diangkat ke layar lebar yang juga menarik minat banyak penonton.
Indonesia kini semakin membutuhkan generasi yang mampu membuat atau melahirkan karya cerita fantasi yang unik bahka menarik.
Nah, buat adik-adik yang kini sedang mengenyam bangku pendidikan dan suka dengan dunia ini, cobalah berkreasi. Siapa tahu film karyamu bisa laris dipasaran.
Sumber referensi
  1. Masyarakat Linguistik Indonesia. 2006. Linguistik Indonesia. Masyarakat Linguistik Indonesia.
  2. Herman J. Waluyo. 1994. Pengkajian cerita fiksi. Sebelas Maret University Press
  3. Wicaksono, Andri. 2014. Pengkajian Prosa Fiksi. PenerbitGarudhawaca
  4. Anonim. 2016. Pengertian, Ciri Umum, Jenis-jenis Cerita Fantasi. Inirumahpintar.com

(Artikel ini copas dari id.Lifeder.com)

Bunuh Diri a-la Penulis

Menulis di jaman sekarang, sudah tidak memisahkan hobi. Tapi sudah menjadi tambang emas dalam memenangkan pundi-pundi royalti. Sayangnya, ada saja yang melakukan berbagai cara demi meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Cara-cara licik (yang sudah lazim) dilakukan para penulisnya yang kusebut sebagai cara bunuh diri a-la penulis (terutama Indie dan Self Publishing). 
Mau nyoba?
Ikutin beberapa tips dan trik di bawah ini.
1. Tulislah naskah porno yang berbahaya . Gak tanggung-tanggung, hampir seluruh bab novelmu isinya desahan eh, ah, oh iya! 
2. Menulislah sesuka hatimu.  Abaikan typomu yang bagaikan pasir di pantai, karena kau memang tidak tahu di mana kesalahanmu. Atau kau terlalu pelit untuk menggunakan jasa editor. 
3. Buat spasi sejarang mungkin.  Hingga naskahmu yang hanya 100 halaman, bisa melar menjadi 300 halaman. Buku tebal kan harganya mahal, kan ya?
4. Layout novelmu terlihatak udel.  Penuh dengan halaman-halaman yang diisi gambar, puisi dan kuote. Sampai akhirnya pembacamu mikir, ini novel apa komik? Atau antologi puisi?
5. Pasang harga selangit.  Buku isinya cuma kelebayan, kebaperan, kecengengan dengan ending (sok) bergaul, biar ada sekuelnya, dan dijual 100rb. 
6. Plagiasi . Mau separoh, atau seluruhnya, hanya mengubah nama-nama tokohnya doang, atau endingnya dibengkokkan dikit.
Jadi ... Setelah melakukan semua itu, dijamin kau dan bukumu akan menjadi obrolan tak sedap di berbagai media sosial. Banyak pembeli yang teriak-teriak untung menemukan bacaan abal-abal harta mahal. Bukumu bisa jadi akan dirobek-robek dan sukur-sukur gak yang dibakar lalu photonya diaplut. Pembacamu akan kapok membeli bukumu dan akhirnya meninggalkanmu. Mereka akan mengharamkan namamu. Penulis yang tanpa pembaca, sama artinya dengan mati.

Mengapa Novel Bisa Membosankan?

ADA BEBERAPA KESALAHAN DALAM MENULIS NOVEL

Kenapa?
Karena menulis novel itu susah-susah gampang. Untuk menghasilkan sebuah tulisan yang bagus dan menarik, kita harus mengetahui celah dan formulanya. Jangan sampai pembaca bosan dengan novel kita. 

Kesalahan yang umum terjadi dalam menulis novel yang harus penulis hindari adalah:
  1. Menunggu inspirasi untuk menulis
Menunda menulis karena menunggu inspirasi merupakan salah satu kesalahan yang kerap dilakukan penulis. Penulis tidak dapat menulis apapun tanpa adanya inspirasi, oleh karena itu janganlah menunggu insiparsi tersebut datang, tapi cari dan kejarlah inspirasi terrsebut. Menunggu inspirasi datang akan membuat penulis menunggu selama berhari-hari atau mungkin berbulan-bulan tanpa ada hal yang dilakukan.
Penulis dapat menentukan kuota dalam menulis novel, bukan hanya kuota banyaknya buku yang harus diterbutkan, namun banyaknya kata yang harus ditulis dalam satu hari. Pada hari berikutnya penulis dapat memeriksa tulisan hari sebelumnya dan melakukan perbaikan serta mencari inspirasi lagi untuk ide cerita selanjutnya.
Cobalah untuk berkeliling di sekitar kompleks rumah atau mengunjungi tempat-tempat baru untuk mendapatkan inspirasi. Penulis-penulis novel terkenal selalu melakukan banyak penelitian dan banyak kunjungan untuk mengejar inspirasi dari tulisan yang ingin dibuat. Penulis juga dapat menemui orang-orang baru dan berbagi cerita.
Cerita-cerita dari orang-orang baru dapat menjadi ide cerita yang menarik yang mungkin belum pernah ditemui sebelumnya oleh penulis. Proses seperti ini akan lebih mempermudah proses pengerjaan sebuah novel karena pengerjaan dilakukan secara bertahap dan tanpa disadari penulis sudah menyelesaikan sebuah novel dalam proses satu waktu yang dilewati.
  1. Salah Menuturkan Konflik
Konflik merupakan inti dari cerita yang akan dibahas. Penulis harus menggambarkan dengan jelas konflik yang akan dihadapi oleh karakter utama dan karakter-karakter lainnya. Konflik di dalam novel terdiri dari beberapa klimaks yang pada akhirnya akan menghadirkan inti atau puncak dari konfilik yang dihadapi. Sebuah novel yang panjang tanpa konflik akan membuat pembaca bosan dan cerita tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Novel mengutamakan konflik yang akan dihadapi oleh karakter, bukan konsep cerita yang bagus semata. Sebagus apapun konsep cerita tanpa adanya konflik akan membuat ceirta menjadi hacur, terasa datar dan tidak ada inti cerita yang akan didaptkan oleh pembaca. Konflik pada novel ibarat nyawa bagi cerita tersebut. Gambarkan konflik layaknya tangga yang menanjak dari bawah hingga ke konflik tertinggi. Konflik dibuat seperti bayi yang tumbuh dari kecil dengan konflik yang mudah hingga dewasa yang akan menghadapi puncak konflik di dalam cerita.
  1. Awal Dan Akhir Cerita Yang Tidak Menarik
Paragraf pertama adalah bagian novel merupakan penarik pembaca untuk membca novel hingga ke bagian-bagian berikutnya. Bagian awal novel harus dibuat semenarik mungkin dengan menggambarkan konflik yang akan dihadapi oleh karakter yang akan dijabarkan dengan lebih jelad di bagian-bagian berikutnya. Awal cerita harus dibuat sesempurna mungkin guna mengundang rasa penasaran dan berdecak kagum pada pembaca.
Selain awal cerita, bagian akhir atau ending cerita juga harus dibuat semenarik mungkin. Pastikan ending dibuat sesuai dengan novel yang ditulis. Misalnya novel perjuangan yang berakhir bahagia namun tetap bersambung ke seri berikutnya atau novel horor yang sibuat dengan akhir yang menegangkan.
Pemilihan ending yang salah sakan membuat cerita menjadi tidak menarik. Konflik yang sudah dijabarkan dari awal namun pada akhirnya karakter tidak dapat menghadapi konflik sesuai yang diharapkan. Hal ini dapat terjadi saat karakter menyelesaikan konflik dengan bantuan dari orang lain tanpa adanya perjuangan.
  1. Tidak Adanya Perjuangan Dari Karakter
Membaca novel pada dasaranya adalah pembaca belajar dari tokoh cerita dari cara tokoh tersebut belajar tentang dirinya sendiri dalam menghadapi konflik yang terjadi. Jika karakter tidak mampu menyelesaikan konflik yang dihadapi maka pembaca merasa tidak ada hal yang menarik dari buku tersebut.
Hal ini dapat terjadi jika karakter menghadapi kejadian atau karakter lain yang serta merta menyelamatkan tokoh utama dari cerita tersbut. Maslaah utama atau konflik di dalam cerita harus diselesaikan oleh karakter utama, boleh dibantu oleh karakter lainnya, namun penyelesaian dari konflik tetap harus dilakukan karakter utama.
  1. Dialog Yang Bertele-Tele
Dialog merupakan bagian penting dari sebuah novel. Selain kalimat narasi ataupun deskripsi, dialog menjad bagian cara penulis dalam menggambarkan interaksi anatar karakter dalam menghadapi konflik. Namun, jangan membuat dialog-dialog yang tidak penting yang hanya akan memperpanjang cerita tanpa ada maksud dan tujuannya.
Hindari dialog yang tidak berguna bagi penyelesaian konflik karena akan membuat cerita diam di tempat. Dialog yang tidak mendukung isi cerita juga akan terlihat garing dan membuat jalan cerita jadi tidak nyambung.
  1. Penulisan Yang Tidak Sesuai Tata Bahasa
Walaupun tidak menggunakan penulisan yang baku, penulisan dengan tata bahasa Indonesia tetap diperlukan. Bahasa Indonesia memang sulit, oleh karena itu penulis harus benar-benar belajar dan memahami kaidah bahasa indonesia yang benar saat sebelum dan ketika menulis novel bahasa indonesia.
Setiap kalimat yang ditulis harus mengandung subjek, predikat,  objek, dan keterangan. Selain itu penggunaan kalimat aktif dan pasif serta tata bahasa lainnya haruslah dipahami dengan baik. Penggunaan tata bahasa Indonesia yang salah akan membuat cerita di novel sulit untuk dimengerti dan akan membingungkan pembaca.
  1. Salah Peletakan Tanda Baca
Tanda baca merupakan bagian dari tata bahasa indonesia yang baik dan benar. Kesalahan peletakan tanda baca dapat membuat tulisan menjadi kacau. Penulis yang salah meletakan tanda baca ibarat menyetir secara ugal-ugalan tanpa memperhatikan kapan harus berhenti dan kapan harus berbelok.
Tanda baca akan sangat memperngaruhi emosi pembaca saat membaca novel. Misalnya penggunaan tanda baca seru (!) yang berarti teriakan atau larangan atau tanda tanya (?) yang berarti kalimat yang dibuat untuk menanyakan sesuatu. Jika salah atau lupa meletakan tanda baca, maka pembaca akan salah mengartikan kalimat yang dituliskan oleh penulis. Jalan cerita juga sulit untuk dipahami dengan salah peletakan tanda baca.
  1. Tidak Ada Setting Cerita
Novel yang terlalu banyak menghadirkan dialog akan meluapakan setting cerita. Setting cerita sangat penting untuk menggambarkan suasana tempat karakter berada saat menghadapi sebuah konflik. Penulis harus menggambarkan setting dengan baik agar pembaca dapat berimajinasi membayangkan setting yang digunakan.
Setting juga akan menambah kisah menjadi semakin menarik karena setting dapat mempengaruhi plot cerita yang dikisahkan di dalam sebuah novel. Setting di dalam sebuah novel dapat terdiri dari beberapa tempat yang berbeda.
Hal terbaik yang dapat dilakukan untuk menulis novel ialah novel tersebut dapat membuka wawasan pembaca. Jangan sampai novel yang dibuah masuk kategori junk-book yang hanya mempedulikan kuantitas tanpa kualitas novel tersebut.
Walapun cerita yang disajikan merupakan cerita fiksi yang bisa jadi hanyalah khayalan dari penulis, namun tetap harus ada pelajaran yang dapat diambil oleh pembaca dengan membaca novel tersebut. Penulis harus memberikan kesan terbaik dari novel yang diciptakannya kepada pembaca. Cerita novel yang menarik akan membuat pembaca terus mengingat novel tersebut.
Sumber : Kelas Menulis Online

MEMORY ALLEY - Blurb

Mereka berdua bertemu untuk saling tertarik. 

Jill Ernest Molloys adalah seorang model dan bintang iklan yang terkenal. Karirnya hancur ketika seorang pria tewas dan dia dituduh sebagai pelakunya. Jill juga bagai harta karun yang diburu oleh banyak orang dan wartawan karena foto-foto telanjangnya bertebaran di sekitar korban. Semua mimpi buruk itu membuatnya meninggalkan dunia entertaiment dan mengasingkan diri dari semua orang. Hingga seorang pria bernama X, berhasil menjungkir balikkan dunianya, kembali. 

X, atau sebenarnya bernama Philip Edward Wenworth, adalah seorang ‘pangeran’. Saat melakukan perjalanan air, seseorang memasang bom di kapal pesiarnya, hingga kapal tersebut meledak dan membunuh seluruh keluarganya. Hanya dia yang selamat namun mengalami hilang ingatan. Ketika dia berpikir bertemu dengan Jill adalah hadiah manis dari Tuhan, saat itulah mimpi buruk mengejar mereka. Jill diculik dan dia kembali diburu untuk dibunuh.